Rabu, 30 Mei 2012

Lume A întunericului (2)


”Dimana ini?” tanya Shena meneliti tempat keadaan sekitar. Tempat mereka saat ini adalah sebuah ruangan dengan luas 3 x 5 meter yang kosong dan gelap.

”Tidak tahu...” gumam Jone.

“Jadi… Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya kembali Fredd.

”E-entahlah... sepertinya kita terjebak di du-dunia yang aneh,” jawab Kyriana bergetar ketakutan. Mendengar jawaban yang sepertinya sangat bisa diterima itu membuat semua mata tertuju kepada Kyriana.

”Damn! Tapi kenapa kita!?” teriak Jone frustasi seakan telah mengerti sesuatu akan terjadi kepada mereka.

”Dunno... sepertinya ada yang mencoba mempermainkan kita dan sengaja memasukan kita ke dunia ini,” jawab Luvi sarkatis.

Fredd menghela nafas panjang, ”Lebih baik kita mulai bergerak dan pergi dari sini. Sadarkah kalian kalau hawa disini mulai tidak enak?”


Semua pandangan tertuju pada pintu yang menghiasi sudut ruangan itu. Dan karena merasa hawa pun mulai tidak enak membuat mereka berlima harus keluar dari ruangan itu. Tanpa sadar akan ada bahaya yang menerjang mereka suatu saat, kapanpun itu.

 .

Lume A întunericului

Warn: Typo (s) , alur aneh dan gaje

Disclaim: OWNED Shaneeta

Capther : 2

Don’t like Don’t read

En(d)joy please^^

.

.


Mereka berlima berjalan menelusuri lorong-lorong gelap gulita yang hanya diterangi oleh obor yang tertancap satu persatu di sudut lorong itu. Suasana yang sunyi itu membuat para gadis mencengkram kedua telapak tangannya erat. Hawa dingin menusuk dalam ke tulang mereka semua. Suara langkah mereka menggema beberapa kali dan akhirnya hilang ditelan angin. Luvi memimpin perjalanan itu, disebelahnya terdapat Kyriana yang terus mencengkram lengan Luvi keras. Diikuti dibelakang Luvi dan Kyriana terdapat Shena, Fredd, dan Jone yang menatap waspada disekitarnya. Tak dipungkiri, Shena yang notabene-nya seorang gadis pemberani sedikit ketakutan dengan tempat yang sedang mereka arungi. Hawa hitam yang dihasilkan oleh gelapnya penerangan dan dinginnya angin malam itu terasa kuat.

”Apa kalian pernah dengar mitos tua tentang lume a întunericului?” Kyriana memulai pembicaraannya dengan lirih ketakutan. Luvi dan semua menatap Kyriana bersamaan.

”Lume a întunericului? Dunia kegelapan?” tanya Luvi.

”Yeah... mitos tua para orang tua yang sengaja menakut-nakuti kita akan tengah malam,” Ucap Jone mencibir.

”Um... Aku tidak terlalu tahu, tapi... menurut sepengetahuanku, dunia itu adalah dunia yang menyeramkan, siapapun yang masuk ke dunia itu harus memecahkan teka-teki dan melawan makhluk yang menginginkan kematian... kalau tidak...” Shena menunduk kebawah menatap lantai keramik yang retak dan penuh debu itu.

”...”

”Mereka akan terperangkap disana selamanya.” Lagi-lagi semua mata menatap kepada Kyriana.

”Lalu... Apa hubungannya dengan semua ini?” tanya Fredd masih tidak mengerti dengan pembicaraan kali ini.

DUK!

Dengan cepat Luvi menoleh kearah sumber suara dimana sebuah pintu kayu tua dengan ornamen tua menghiasi dinding permukaan pintu itu.

Ya...

Suara itu berasal dari pintu yang tepat berada di dua meter depan mereka.

”A-apa itu?”

”Lebih baik kita bersembunyi disuatu tempat yang tak terlihat oleh ’nya’,” ujar Luvi mencari-cari tempat yang bisa untuk mereka ber-lima.

”I-itu mungkin bisa!” kata Fredd menunjuk kearah sebuah lemari yang cukup besar dengan pintunya yang terbuka. Luvi mendekati lemari itu dengan meng-cek isi didalamnya.

”Cukup untuk kita ber-lima, wanita duluan.”

DUK!!

Suara aneh yang berasal dari pintu tua itu mulai mengeras. Dan bunyi yang memilukan dari kenop pintu tersebut berbunyi pertanda pintu akan dibuka.

”Cepat!” ujar Jone mulai ketakutan. Kyriana dan Shena masuk pertama lalu diikuti Jone, Luvi dan Fredd. Fredd tutup pintu lemari itu tak sempurna, supaya ia bisa melihat siapa yang sebenarnya membuat takut remaja itu.

Kriek!!

Tap.

Tap.

Tap.

Suara geraman halus terdengar mengerikan diluar lemari itu. Jone dan yang lainnya menahan nafas seakan makhluk itu bisa mengetahui mereka lewat nafas mereka. Jantung itu berdegup-degup kencang dengan desiran darah yang mengalir sangat cepat diatas batas normal.

Tap.

Tap.

Makhluk itu berjalan kembali ke arah asal Fredd dan kawan-kawan berasal. Tumbuh rasa ke-ingin tahu-an yang besar, Fredd mencoba mengintip dari celah lemari tersebut.

DEG!!

Makhluk―monster besar yang menyeramkan dengan gigi taring yang tumbuh besar dan keluar dari mulutnya, juga bentuk tubuhnya yang seperti lumpur coklat itu. Spontan Fredd sangat terkejut hingga ia melangkah mundur dan menubruk Jone.

Bruk!

”Grraooww...!” Monster mengerikan itu berhenti berjalan dan menoleh kebelakang, tepatnya ke arah lemari itu.

Tangan Shena bersiap memegang revolver yang terisi penuh oleh 32 biji timah yang akan siap meluncur. Tapi wanita tetaplah wanita, keberaniannya itupun tak bisa menutupi rasa takut yang luar biasa dalam benaknya.

BRAKK!!!

Suara gebrakan terdengar dari arah yang awalnya akan dituju oleh monster tersebut.

”Cepat, Lilian!”

”GRAAOOWWW!!!!!!” Geraman monster itu kembali mengeras setelah teriakan seseorang tadi. Langkahnya berbunyi cepat pertanda dia sedang berlari dan menjauh dari lemari.

Jone menghela nafas panjang dan berkata, ”Akhirnya...”

”Tunggu, apa kalian tadi mendengar teriakan Mr. Joseph yang berteriak memanggil nama Mrs. Lilian?” tanya Luvi. Kyriana dan Shena mengangguk.

”Sepertinya mereka berdua juga masuk kedalam dunia ini,” gumam Kyriana.

”Huh? Dunia apa, Kyna?” tanya Luvi. Kyriana menatap kakaknya dalam.

” Lume a întunericului... Dunia kegelapan.”

.

.

”Hosh... Hosh... Tu-tunggu, Mr. Joseph... A-apa kau yakin ini jalan yang benar?” tanya Lilian sambil mengatur nafasnya yang tak karuan itu, begitupun dengan Joseph.

“Entahlah… Aku pun tak yakin, tapi lebih bai―”

”GRAAOOOOWWW!!!!!!”

”Lari!!!”

Kedua insan itu melanjutkan larinya yang tak tentu arahnya. Joseph menarik tangan Lilian ketika wanita itu mulai melamban. Rasa lelah yang besar tidak membuat Joseph untuk berhenti walaupun kakinya sudah tidak kuat lagi.

’Bagus! Ada tikungan’ pikir Joseph tanpa melihat sesuatu diujung dari tikungan tersebut.

”GRAAOOOWWW!!!!!!!!” Geraman monster itu semakin terdengar keras karena jaraknya mulai terlihat dengan mata Lilian.

”Oh, tidak...”

”Kena-”

Gotcha.

”GRAAAWWW!!!” Monster lain berjaga diujung tikungan tersebut. Bentuk tengkorak burung yang besar dengan mata yang merah menyala.

”Jo-Joseph... Bagaimana i-ini!?” Tanya Lilian sambil mencengkram lengan Joseph ketakutan.

”Tidak ada jalan lain...” lirih Joseph.

”MR. JOSEPH MINGGIR!!!!!” Teriakan Fredd membuat Joseph menoleh bersamaan dengan suara tembakan yang menggema cepat.

DOR!!!!

”Graaaoooww!!!!” Monster lumpur itu hancur lebur dan lumpur-lumpurnya pun menghilang. Joseph dan Lilian menghela nafas melihat ada yang lain disini.

”GRAAAWWW!!!” Monster burung itu mengepakan sayap tulangnya dan terbang kearah mereka semua.

”LARIII!!!!” teriak Joseph menarik tangan Lilian dan berlari bersama yang lainnya. Aksi kejar-mengejar pun terjadi dilorong-lorong sepi tersebut. Derap langkah kaki mereka menuruni tangga yang cukup licin apabila tidak berhati-hati. Tepat didepan anak tangga terakhir ada pintu yang terbuka dan mengarah ke ruang tamu, tapi pintu itu terus bergerak dan akan tertutup. Dengan cepat, Mereka pun masuk kedalam sana.

BRAK!!!

”Hosh... Hosh.... tu-tunggu Shena!” teriak Kyriana kencang saat melihat Shena terjatuh. Tiba-tiba saja Fredd mendapati perasaannya yang tak enak.

”Shena!!! Cepat!!!” teriak Jone dari ambang pintu.

”Maaf teman-teman, aku tidak bisa... pergilah...” lirih Shena menunduk dalam.

”SHEEENNAAAA!!!”

Blam!

Pintu tertutup sempurna dan terkunci rapat tanpa adanya kunci yang bisa membuka pintu itu. Fredd menggedor-gedor keras sambil berusaha mendobrak pintu besi tua tersebut. Joseph dan Luvi berusaha menghentikan Fredd, sedangkan yang lainnya terdiam suram.

”Shenaaa!!!”

.

.

.

To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar