Senin, 28 Mei 2012

Seven Letters for My Dear


Jari jemari itu bersatu saling berkaitan satu sama lain meninggalkan dinginnya malam ini. Wajahnya masih menyiratkan rasa cemas dan takut yang cukup mendalam. Dia masih menunggu lelaki itu─

─Raditaya Putri masih menunggu.

Tubuh ramping yang mulai mengurus itu masih setia menunggu lelaki yang membuatnya mengerti apa rasa sakit yang amat sangat didalam hatinya. Kaki jenjangnya masih setia berdiri ataupun berjalan menelusuri jalan kenangan yang masih saja membuatnya sakit...

Perih...

Kecewa...

Semua itu harus ia rasakan. Sendirian.

"Because i'm just the Ordinary girl, M'baby..."

.

.

.

7 Letters for you

Genre : Angst, a little bit of Romance, maybe?

Don't like? Don't read this, guys

Please en(d)joy this

.

.

.

Tik.

Tik.

"..."

"...Ra?"

"Hello, Raditaya? Are you still alive?" Ucap seorang wanita berambut hitam bergelombang itu mencoba membuyarkan lamunan wanita berwajah oriental yang ada didepannya. Sontak saja wanita oriental itu terbangun dari lamunannya. Ditia─nama wanita yang tadi berbicara─menghela nafas panjang menatap Raditaya yang seperti ini.

"Taya, lebih baik kau pulang, 'dia' tidak akan kembali lagi ..., kau tahu─"

"Aku yakin dia akan kembali padaku, Dit..., aku yakin sekali! Dia tidak pernah mengingkari janjinya satupun!" sela Raditaya yakin. Mata sendunya menatap cincin putih yang melingkar manis di jari manis sebelah kanannya.

"Apa yang bisa membuktikan semua itu, Raditaya my dear? Sudah jelas Reza tidak akan pernah kembali semenjak kecelakaan besar yang merenggut nyawanya!" Ucapan Ditia membuat Raditaya terkejut dan mengulang kembali kenangan pahit─bahkan sangat pahit baginya.
Ditia yang menyadari ucapannya itu segera meringis kecil merutuki kebodohannya. Dan karenanya, Raditaya kembali meneteskan kristal bening dari ujung matanya.

"Ra, bukan maksudku untuk..." Ditia menundukan wajahnya menyesali apa yang ia ucapkan tadi.

"It's okay, aku sadar kalau kau memang sama seperti yang lainnya, berharap kalau dia tidak pernah ada," ucap Raditaya cukup tajam di pendengaran Ditia. Ditia menatap sedih Raditaya yang beranjak dari tempat duduk cafenya itu dan keluar entah kemana. Ada rasa bersalah dan juga rasa kesal yang meliputi hatinya kala itu.

"Hhh... Sampai kapan kamu akan seperti itu, Raditaya?" gumam Ditia sembari memijit pelipisnya itu.

.

.

.

Langkah kecilnya sedang menelusuri jalan setapak yang bertaburan daun coklat dimana-mana. Matanya meneliti sukses setiap pohon-pohon yang menjulang tegap kokoh di pinggir jalan.

Lagi.

Kenangan indahnya bersama Reza yang memutar serentak di kepala membuat hatinya sakit lagi. Kali ini rasa sakit iitu lebih parah dari kemarin-kemarin entah mengapa. Tangan kurus yang berbalut kulit halus itu bergerak dan menekan dadanya yang terasa sakit, tepat di jantungnya. Ia rasakan sakit itu seperti ada yang menghujam jantungnya terus menerus.

"Kenapa...?" kristal bening itu turun kembali menganak alir di pipi tirusnya itu.

"Kenapa harus kamu yang pergi, Reza? Kenapa harus kamu?"

"...dan kenapa harus aku yang merasakan semua itu? Kau tahu aku sangat tidak suka─bahkan benci kalau kau pergi jauh disisiku? Kau berjanji tidak akan meninggalkan diriku jauh, sangat jauh hingga aku tak lagi bisa menggapaimu dengan tangan ini...."

"Jadi kenapa kau tidak menepati janjimu itu!" Raditaya berteriak sekencang-kencangnya mengabaikan tatapan heran dari orang-orang yang ada di belakangnya. Hati wanita itu sangat sakit jika ia harus mengingat semua itu.

"...tidak selamanya semua orang bisa menepati janjinya." Sebuah suara berat yang asing bagi Raditaya itu menginterupsinya. Cukup terkejut, memang.... Tapi Raditaya segera menoleh ke arahnya lalu mengerinyit kesal kepada lelaki itu. Baru saja ia akan memprotes, tiba-tiba saja lelaki berambut merah bata―yang ternyata di cat―dengan tatto di tangannya menyodorkan enam lembar surat yang terbungkus rapih oleh amplop yang tertutup rapat. Diliriknya ada tulisan khas yang bercoretkan namanya,  Raditaya.

"Dari siapa?" tanya Raditaya sembari mengeratkan syal ungu tua itu.

"Baca saja, nanti juga kau tahu..." ucapnya datar. Perlahan tangan Raditaya meraih ke-tujuh surat itu lalu menatap perlahan satu-persatu amplop itu dan membukanya. Raditaya menatap kecil lelaki itu.

"Bisakah kau tinggalkan aku, err─"

"Hari, Hari Saputra. Inspektur yang menangani kasus."

"Yeah, bisakah kau tinggalkan aku sementara, Hari?" pinta Raditaya. Hanya dengan mengangguk, Hari beranjak dari tempatnya menuju ke sebuha mobil sedan lalu melaju menuju jalanan itu. Raditaya menghela nafas, lalu memantapkan hati membuka satu isi surat yang ia yakini dari Reza.

-15 Januari 20xx

Dear Raditaya kekasihku....
Saat ini aku sudah berada di pesawat yang memberangkatkan ku menuju Tokyo. Aah..., sedih rasanya harus meninggalkan dirimu lagi hanya untuk memenuhi tuntutan ayah dalam hal pekerjaan. Apalagi melihat matamu yang memerah dan bengkak seperti habis menangis itu. Maafkan kekasihmu ini, Baby... Bukan keinginanku untuk pergi ke Tokyo dan harus meninggalkanmu lama selama seminggu. Aku jadi merasa bersalah. Maaf ya? Lain waktu aku akan mengajakmu untuk pergi bersama sekaligus akan mengenalkan dirimu kepada orang-orang kantor di Tokyo. Dan juga akan kukenalkan dirimu kepada wanita-wanita yang selalu genit padaku. Tapi tunggu dulu! Aku sama sekali tidak tertarik oleh mereka, karena bagiku..., hanya kamulah wanita yang selalu membuatku tertarik olehmu. Love you, my Baby....

Raditaya terkekeh kecil setelah membaca surat yang pertama. Lalu ia buka lagi surat yang lainnya.

-16 Januari 20xx

Dear Raditaya kekasihku....
Aku sudah sehari di Tokyo, dan kau tau? Disini sangat sejuk! Suatu saat aku berjanji akan mengajakmu kesini hanya berdua. Ya..,. hanya berdua saja tanpa ada gangguan dari siapapun. Hhh... aku sangat rindu padamu, Raditaya.... Entah mengapa baru kali ini aku merasa sangat merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu. Eh tunggu jangan marah dahulu, waktu dulu saat aku meninggalkanmu juga rindu kok! Tenang saja! Hahaha... wah, waktunya untuk bekerja lagi karena jam makan siang sudah selesai. Bye, my dear..., i'll always miss you, always....

-17 Januari 20xx

Dear Raditaya yang Terkasih dan yang tercantik...
Sepertinya sudah dua kali aku menyebutkan 'Raditaya yang tersayang', hm? Hahaha... tapi itu benar, hanya kamu yang kusayang dan kucintai. Tidak ada wanita atau bahkan pria yang kulirik. Tentu saja! Aku masih normal, Raditaya my dear..., hahaha... waktu sudah malam di Tokyo, lebih baik aku cepat tidur karena aku akan dimarahi Raditaya my dear jika telat tidur. Hahaha... i hope i can dreaming you again, My sweeties....

-18 Januari 20xx

Dear Raditaya yang ada di Konoha...
Tahukah kamu, Raditaya my dear? Malam ini adalah malam yang indah. Kenapa? Karena pertama kalinya aku bisa melihat bintang yang berjumlah ribuan dilangit ini. Lihatkah kau diatas langit? Kuharap iya dan Konoha sedang tidak hujan.... Andai saja kau ada disampingku saat ini, Raditaya my dear. Kupastikan malam ini adalah malam yang sangat-sangat indah. Because i can see my star in my eyes.

-19 Januari 20xx
Dear Raditaya yang cantik...
Dua hari lagi aku akan pulang dan menemuimu, Raditaya my dear. Dan itu membuatku bahagia bahkan sangat bahagia. Kau tidak lupakan janji mu akan menjemputku di Bandara, kan? Kuharap tidak.... Jika kau lupa, lihat saja nanti..., kau akan kuberi hukuman yang setimpal! Hahaha....

-20 Januari 20xx

Dear Raditaya yang selalu membuatku tersenyum....
Akhirnya besok pagi aku akan berangkat menuju Konoha dan menemuimu. Kau sudah berdandan kah untuk menemuiku di bandara? Oh tidak! Kau sudah cantik walaupun tanpa make up bagiku. Kuharap kau datang ke bandara dan menemuiku.... Kau sudah janji kan? Y'know, i'm really miss you. Tunggu aku....

"Tapi kau tidak menepati janjimu, Reza.... Kau malah pergi meninggalkan diriku jauh," ucap Raditaya terisak sembari meremas kertas-kertas itu. Kertas-kertas itu terjatuh dari pangkuan Raditaya karena ia berdiri dari duduknya. Sekuat tenaga Raditaya berlari menuju halte terdekat lalu menaiki bus yang mengarah ke bandara. Entah mengapa langkah kakinya seakan ringan membawanya menuju bandara itu. Sesampainya di bandara, langkah kakinya terus bergerak cepat hingga berhenti didepan pintu keluar. Wanita itu mengatur nafasnya yang tak beraturan lalu menyekat bulir keringat yang mengalir dikeningnya.

'Apa yang kulakukan di sini?' pikirnya.

Tuk!

Tiba-tiba saja ia lihat sebuah pesawat dari kertas itu mendarat tepat di depannya. Ia menelusuri siapa pemilik kertas itu, tapi sepertinya tidak ada yang mencarinya. Lalu Raditaya terdorong untuk meraih pesawat kertas itu lalu membuka lipatan kertas itu. Tanpa diduganya, sebuah coretan tinta yang sama dengan enam surat tadi menghiasi kertas itu dengan seuntaian kalimat.

Dear Raditaya....
Di surat yang ke tujuh ini, aku mau meminta maaf karena aku tidak bisa menepati dua janji. Yang pertama, aku tidak bisa menemuimu lagi..., dan yang kedua, aku harus membuatmu menangis kembali. Aku tidak menginginkan semua ini, tapi takdir sudah ditentukan oleh Tuhan. Dan jangan pula kamu menyalahkan Tuhan, karena yakinilah akan ada sesuatu yang indah di balik semua ini. Raditaya my dear..., terimakasih atas semua yang pernah kau berikan untukku. Kenangan-kenangan indah kita takkan pernah kulupa sampai kapanpun. Jaga dirilah baik-baik. Aku akan selalu ada dihatimu....

"I miss you, Raditaya my dear...." Sebuah suara berat terdengar lirih ditelinga Raditaya dan sebuah pelukan yang terasa hangat dari belakang Raditaya. Raditaya terbelalak kaget dan ingin sekali membalikan badannya. Tapi ia tidak bisa, gerakannya melawan keras hatinya.

"Reza..." lirih Raditaya yang hanya bisa diam terpaku kala itu. Perlahan-lahan, pelukan itu memudar bersamaan dengan kehangatan yang baru saja ia rasakan kembali. Air mata Raditaya akan jatuh untuk terakhir kalinya. Dan senyuman tulus yang merelakan semua ini pun kembali hadir di bibir kecil itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar