Jari jemari itu bersatu saling
berkaitan satu sama lain meninggalkan dinginnya malam ini. Wajahnya masih
menyiratkan rasa cemas dan takut yang cukup mendalam. Dia masih menunggu lelaki
itu─
─Raditaya Putri masih menunggu.
Tubuh ramping yang mulai mengurus
itu masih setia menunggu lelaki yang membuatnya mengerti apa rasa sakit yang
amat sangat didalam hatinya. Kaki jenjangnya masih setia berdiri ataupun
berjalan menelusuri jalan kenangan yang masih saja membuatnya sakit...
Perih...
Kecewa...
Semua itu harus ia rasakan.
Sendirian.
"Because i'm just the
Ordinary girl, M'baby..."
.
.
.
7
Letters for you
Genre :
Angst, a little bit of Romance, maybe?
Don't
like? Don't read this, guys
Please
en(d)joy this
.
.
.
Tik.
Tik.
"..."
"...Ra?"
"Hello, Raditaya? Are you still alive?" Ucap
seorang wanita berambut hitam bergelombang itu mencoba membuyarkan lamunan
wanita berwajah oriental yang ada didepannya. Sontak saja wanita oriental itu
terbangun dari lamunannya. Ditia─nama wanita yang tadi berbicara─menghela nafas
panjang menatap Raditaya yang seperti ini.
"Taya, lebih baik kau
pulang, 'dia' tidak akan kembali lagi ..., kau tahu─"
"Aku yakin dia akan
kembali padaku, Dit..., aku yakin sekali! Dia tidak pernah mengingkari janjinya
satupun!" sela Raditaya yakin. Mata sendunya menatap cincin putih yang
melingkar manis di jari manis sebelah kanannya.
"Apa yang bisa membuktikan
semua itu, Raditaya my dear? Sudah
jelas Reza tidak akan pernah kembali semenjak kecelakaan besar yang merenggut
nyawanya!" Ucapan Ditia membuat Raditaya terkejut dan mengulang kembali
kenangan pahit─bahkan sangat pahit baginya.
Ditia yang menyadari ucapannya
itu segera meringis kecil merutuki kebodohannya. Dan karenanya, Raditaya
kembali meneteskan kristal bening dari ujung matanya.
"Ra, bukan maksudku
untuk..." Ditia menundukan wajahnya menyesali apa yang ia ucapkan tadi.
"It's okay, aku sadar kalau kau memang sama
seperti yang lainnya, berharap kalau dia tidak pernah ada," ucap Raditaya
cukup tajam di pendengaran Ditia. Ditia menatap sedih Raditaya yang beranjak
dari tempat duduk cafenya itu dan keluar entah kemana. Ada rasa bersalah dan
juga rasa kesal yang meliputi hatinya kala itu.
"Hhh... Sampai kapan kamu
akan seperti itu, Raditaya?" gumam Ditia sembari memijit pelipisnya itu.
.
.
.
Langkah kecilnya sedang
menelusuri jalan setapak yang bertaburan daun coklat dimana-mana. Matanya
meneliti sukses setiap pohon-pohon yang menjulang tegap kokoh di pinggir jalan.
Lagi.
Kenangan indahnya bersama Reza
yang memutar serentak di kepala membuat hatinya sakit lagi. Kali ini rasa sakit
iitu lebih parah dari kemarin-kemarin entah mengapa. Tangan kurus yang berbalut
kulit halus itu bergerak dan menekan dadanya yang terasa sakit, tepat di
jantungnya. Ia rasakan sakit itu seperti ada yang menghujam jantungnya terus
menerus.
"Kenapa...?" kristal
bening itu turun kembali menganak alir di pipi tirusnya itu.
"Kenapa harus kamu yang
pergi, Reza? Kenapa harus kamu?"
"...dan kenapa harus aku
yang merasakan semua itu? Kau tahu aku sangat tidak suka─bahkan benci kalau kau
pergi jauh disisiku? Kau berjanji tidak akan meninggalkan diriku jauh, sangat
jauh hingga aku tak lagi bisa menggapaimu dengan tangan ini...."
"Jadi kenapa kau tidak
menepati janjimu itu!" Raditaya berteriak sekencang-kencangnya mengabaikan
tatapan heran dari orang-orang yang ada di belakangnya. Hati wanita itu sangat
sakit jika ia harus mengingat semua itu.
"...tidak selamanya semua
orang bisa menepati janjinya." Sebuah suara berat yang asing bagi Raditaya
itu menginterupsinya. Cukup terkejut, memang.... Tapi Raditaya segera menoleh
ke arahnya lalu mengerinyit kesal kepada lelaki itu. Baru saja ia akan
memprotes, tiba-tiba saja lelaki berambut merah bata―yang ternyata di cat―dengan
tatto di tangannya menyodorkan enam lembar surat yang terbungkus rapih oleh
amplop yang tertutup rapat. Diliriknya ada tulisan khas yang bercoretkan
namanya, Raditaya.
"Dari siapa?" tanya
Raditaya sembari mengeratkan syal ungu tua itu.
"Baca saja, nanti juga kau
tahu..." ucapnya datar. Perlahan tangan Raditaya meraih ke-tujuh surat itu
lalu menatap perlahan satu-persatu amplop itu dan membukanya. Raditaya menatap
kecil lelaki itu.
"Bisakah kau tinggalkan
aku, err─"
"Hari, Hari Saputra.
Inspektur yang menangani kasus."
"Yeah, bisakah kau
tinggalkan aku sementara, Hari?" pinta Raditaya. Hanya dengan mengangguk, Hari
beranjak dari tempatnya menuju ke sebuha mobil sedan lalu melaju menuju jalanan
itu. Raditaya menghela nafas, lalu memantapkan hati membuka satu isi surat yang
ia yakini dari Reza.
-15 Januari 20xx
Dear Raditaya kekasihku....
Saat ini aku sudah berada di
pesawat yang memberangkatkan ku menuju Tokyo. Aah..., sedih rasanya harus
meninggalkan dirimu lagi hanya untuk memenuhi tuntutan ayah dalam hal
pekerjaan. Apalagi melihat matamu yang memerah dan bengkak seperti habis
menangis itu. Maafkan kekasihmu ini, Baby... Bukan keinginanku untuk pergi ke Tokyo
dan harus meninggalkanmu lama selama seminggu. Aku jadi merasa bersalah. Maaf
ya? Lain waktu aku akan mengajakmu untuk pergi bersama sekaligus akan
mengenalkan dirimu kepada orang-orang kantor di Tokyo. Dan juga akan kukenalkan
dirimu kepada wanita-wanita yang selalu genit padaku. Tapi tunggu dulu! Aku
sama sekali tidak tertarik oleh mereka, karena bagiku..., hanya kamulah wanita
yang selalu membuatku tertarik olehmu. Love you, my Baby....
Raditaya terkekeh kecil setelah
membaca surat yang pertama. Lalu ia buka lagi surat yang lainnya.
-16 Januari 20xx
Dear Raditaya kekasihku....
Aku sudah sehari di Tokyo, dan
kau tau? Disini sangat sejuk! Suatu saat aku berjanji akan mengajakmu kesini
hanya berdua. Ya..,. hanya berdua saja tanpa ada gangguan dari siapapun. Hhh...
aku sangat rindu padamu, Raditaya.... Entah mengapa baru kali ini aku merasa sangat
merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu. Eh tunggu jangan marah dahulu, waktu
dulu saat aku meninggalkanmu juga rindu kok! Tenang saja! Hahaha... wah,
waktunya untuk bekerja lagi karena jam makan siang sudah selesai. Bye, my
dear..., i'll always miss you, always....
-17 Januari 20xx
Dear Raditaya yang Terkasih dan
yang tercantik...
Sepertinya sudah dua kali aku
menyebutkan 'Raditaya yang tersayang', hm? Hahaha... tapi itu benar, hanya kamu
yang kusayang dan kucintai. Tidak ada wanita atau bahkan pria yang kulirik.
Tentu saja! Aku masih normal, Raditaya my dear..., hahaha... waktu sudah malam
di Tokyo, lebih baik aku cepat tidur karena aku akan dimarahi Raditaya my dear
jika telat tidur. Hahaha... i hope i can dreaming you again, My sweeties....
-18 Januari 20xx
Dear Raditaya yang ada di
Konoha...
Tahukah kamu, Raditaya my dear?
Malam ini adalah malam yang indah. Kenapa? Karena pertama kalinya aku bisa
melihat bintang yang berjumlah ribuan dilangit ini. Lihatkah kau diatas langit?
Kuharap iya dan Konoha sedang tidak hujan.... Andai saja kau ada disampingku
saat ini, Raditaya my dear. Kupastikan malam ini adalah malam yang
sangat-sangat indah. Because i can see my star in my eyes.
-19 Januari 20xx
Dear Raditaya yang cantik...
Dua hari lagi aku akan pulang
dan menemuimu, Raditaya my dear. Dan itu membuatku bahagia bahkan sangat
bahagia. Kau tidak lupakan janji mu akan menjemputku di Bandara, kan? Kuharap
tidak.... Jika kau lupa, lihat saja nanti..., kau akan kuberi hukuman yang
setimpal! Hahaha....
-20 Januari 20xx
Dear Raditaya yang selalu
membuatku tersenyum....
Akhirnya besok pagi aku akan
berangkat menuju Konoha dan menemuimu. Kau sudah berdandan kah untuk menemuiku
di bandara? Oh tidak! Kau sudah cantik walaupun tanpa make up bagiku. Kuharap
kau datang ke bandara dan menemuiku.... Kau sudah janji kan? Y'know, i'm really
miss you. Tunggu aku....
"Tapi kau tidak menepati
janjimu, Reza.... Kau malah pergi meninggalkan diriku jauh," ucap Raditaya
terisak sembari meremas kertas-kertas itu. Kertas-kertas itu terjatuh dari
pangkuan Raditaya karena ia berdiri dari duduknya. Sekuat tenaga Raditaya
berlari menuju halte terdekat lalu menaiki bus yang mengarah ke bandara. Entah
mengapa langkah kakinya seakan ringan membawanya menuju bandara itu. Sesampainya
di bandara, langkah kakinya terus bergerak cepat hingga berhenti didepan pintu
keluar. Wanita itu mengatur nafasnya yang tak beraturan lalu menyekat bulir
keringat yang mengalir dikeningnya.
'Apa yang kulakukan di sini?' pikirnya.
Tuk!
Tiba-tiba saja ia lihat sebuah
pesawat dari kertas itu mendarat tepat di depannya. Ia menelusuri siapa pemilik
kertas itu, tapi sepertinya tidak ada yang mencarinya. Lalu Raditaya terdorong
untuk meraih pesawat kertas itu lalu membuka lipatan kertas itu. Tanpa
diduganya, sebuah coretan tinta yang sama dengan enam surat tadi menghiasi
kertas itu dengan seuntaian kalimat.
Dear Raditaya....
Di surat yang ke tujuh ini, aku
mau meminta maaf karena aku tidak bisa menepati dua janji. Yang pertama, aku
tidak bisa menemuimu lagi..., dan yang kedua, aku harus membuatmu menangis
kembali. Aku tidak menginginkan semua ini, tapi takdir sudah ditentukan oleh Tuhan.
Dan jangan pula kamu menyalahkan Tuhan, karena yakinilah akan ada sesuatu yang
indah di balik semua ini. Raditaya my dear..., terimakasih atas semua yang
pernah kau berikan untukku. Kenangan-kenangan indah kita takkan pernah kulupa
sampai kapanpun. Jaga dirilah baik-baik. Aku akan selalu ada dihatimu....
"I miss you, Raditaya my
dear...." Sebuah suara berat terdengar lirih ditelinga Raditaya dan
sebuah pelukan yang terasa hangat dari belakang Raditaya. Raditaya terbelalak
kaget dan ingin sekali membalikan badannya. Tapi ia tidak bisa, gerakannya
melawan keras hatinya.
"Reza..." lirih
Raditaya yang hanya bisa diam terpaku kala itu. Perlahan-lahan, pelukan itu
memudar bersamaan dengan kehangatan yang baru saja ia rasakan kembali. Air mata
Raditaya akan jatuh untuk terakhir kalinya. Dan senyuman tulus yang merelakan
semua ini pun kembali hadir di bibir kecil itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar