Lume A întunericului
Chapter : 1
Don’t like Don’t read
En(d)joy please^^
.
.
.
Dahulu kala pada tahun 1878, disebuah kota tua yang bernama întunericului berada di negara Eropa memiliki beberapa mitos yang terkenal hingga ke belahan dunia. Salah satunya adalah Lume A întunericului. Sebuah mitos yang tidak memperbolehkan anak remaja terjaga lebih dari pukul 12 malam. Kalau kau terjaga, maka kau akan masuk dalam Lume A întunericului.
”Astaga, jadi kita tidak pernah dibolehkan terjaga lebih dari pukul 12 malam, ibu?” tanya bocah lelaki berambut hitam itu. Sang ibu hanya mengangguk kecil dan tersenyum kecil.
”Aku takut, ibu...” ucap bocah perempuan yang sedang menggenggam lengan ibunya. Sang ibu tersenyum kearahnya lalu mengelus lembut rambut pirang bocah itu.
”Makanya, Kyriana dan Luvi harus cepat tidur sebelum pukul 12 malam,” ujar sang ibu.
Dua bocah yang bernama Kyriana dan Luvi itu mengangguk cepat lalu berbaring ditempat tidur yang berbeda itu. Sang ibu menyelimuti mereka dengan selimut agar suhu tubuh mereka tetap hangat di bawah naungan angin kencang yang ada diluar rumah. Sesaat hati sang ibu berdoa kecil.
’Semoga setiap malam tidak mengambil mereka dari tidurnya.’
.
Sepuluh tahun sudah berlalu, kota întunericului yang dahulu berdedikasi dengan kota tua-nya kini berubah menjadi salah satu daerah yang memiliki banyak pencangkar langit disetiap sudut kotanya. Kota modern―mungkin itu yang lebih pantas disebutnya.
Dua sosok remaja yang kini sedang berjalan dengan seragam mereka itupun sedang bercengkrama satu sama lain. Disalah satu tangan mereka menggenggam tas yang berbentuk persegi panjang yang kecil dengan warna norak membalut tas itu.
”Luvi, apa kau ingat kalau Shena dan Fredd itu berpacaran sudah setahun lamanya?” tanya gadis berambut pirang itu menatap lelaki disebelahnya.
”Yeah, tentu saja Kyna, aku dan yang lainnya sudah mempersiapkan semua keperluan yang kita butuhkan untuk memberikan kejutan kepada mereka berdua!” jawab Luvi―lelaki yang berjalan bersama Kyriana.
Kyriana tersenyum lebar dan kedua tangannya bertepuk kecil. ”Baguslah! Jadi kita akan menginap dirumah nenek! Asyik!!!” gumamnya girang.
”Kyna! Luvi!” Terdengar suara teriakan yang memanggil nama mereka berdua. Luvi dan Kyriana pun mencari asal suara tersebut.
”Sebelah si―hey!” Teriakan tersebut menghilang seraya Luvi dan Kyriana mendapati orang yang meneriaki nama mereka keras. Tiba-tiba saja Luvi dan Kyriana merasa heran dengan orang tersebut.
”Kenapa kau, Jone?” tanya Luvi sambil mendekati Jone bersama Kyriana yang mengikutinya dari belakang.
”Tukang sampah sialan! oh―hey! Kalian berdua mau berangkat sekolah? Bolehkan aku berangkat bersama kalian?” pinta lelaki berambut coklat cepak itu bertubi-tubi. Luvi menghela nafas panjang lalu menarik tangan Jone dari tempatnya berdiri tadi. Sedangkan Kyriana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
”Hey, Jone... Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi, kau tadi kenapa?” tanya Luvi lagi sambil berjalan.
”Gara-gara tukang sampah sialan itu aku jadi ketakutan tahu!” geram Jone kesal.
”Memangnya kenapa?” tanya Kyriana yang sedari tadi hanya diam saja mengikut mereka dari belakang.
Jone menghela nafas kecil lalu berkata, ”Tukang sampah itu berkata kepada ku kalau aku dan teman-temanku akan terhisap dalam suatu masalah besar yang mempertaruhkan hidup dan mati kita. Aku pun tidak tahu pasti apa yang akan terjadi, tapi itu sungguh membuatku takut!”
”Hm... sudahlah, tidak usah kau pikirkan, Jone. Mungkin saja itu peringatan kepadamu agar tidak baku hantam lagi dengan sekolah lainnya,” ujar Luvi. Sedangkan Jone hanya mendumel tak jelas mendengar jawaban Luvi.
’Mengapa aku juga akan merasa sesuatu yang akan datang sebentar lagi? Sesuatu yang... Tidak masuk akal?’ pikir Kyriana.
Mereka bertiga berjalan dalam keheningan yang hampa. Jone terdiam karena ia masih berpikir yang tidak-tidak mengenai ancaman itu, sedangkan Luvi terlihat jelas diraut wajahnya yang sangat mengantuk itu dan malas untuk membuka mulut sekedar berbicara. Kyriana? Ia masih terlamun oleh pikiran yang ia harapkan datang tapi tak kunjung datang juga.
Tak terasa kaki mereka bertiga sudah melangkah masuk kedalam gerbang sekolah yang terbuka lebar membuka setiap murid dan guru untuk masuk kedalam. Karena Luvi dan Kyriana berbeda tingkat kelas, sang kakak―Luvi naik ke lantai kedua bersama Jone yang satu tingkatan tapi berbeda kelas. Saat Kyriana berada dilorong, seseorang memanggil nama kecilnya.
”Kyna!”
”Hm?” Kyriana memutar kepalanya 90º kearah kanan. Ditatapnya gadis berambut hitam legam pendek sebahu yang ia ikat cepol keatas.
”Kau sudah mengerjakan PR Matematika, hm?” tanya gadis itu tepat berjalan disamping Kyriana.
”Tentu saja sudah, aku tidak mau nilaiku mengecil hanya karena melewati satu tugas pun,” Jawabnya datar. Gadis itu mengembungkan pipinya kesal karena Kyriana sangat datar terhadapnya.
”Kenapa kau selalu seperti itu kepadaku? Apa salahku?” tanyanya bertubi-tubi.
”Entahlah, aku merasa tidak pernah nyaman berada bersamamu.”
Gadis itu berhenti sejenak menatap punggung Kyriana. Dahinya mengerut kecil pertanda tidak suka. Matanya yang mulai berkaca-kaca siap menjatuhkan butiran-butiran bening yang akan membuat jejak aliran sungai yang cukup deras.
’Jahat... Kau jahat, Kyriana!’ rutuknya dalam hati. Ia segera menghapus aliran sungai itu dan berlari kencang ke arah yang berlawanan dengan Kyriana. Langkah kakinya terdengar cukup keras oleh Kyriana. Gadis berambut pirang itu menghela nafas panjang, ia sekat peluh yang membasahi keningnya itu.
’Mengapa aku selalu tidak pernah nyaman berada didekat Metis? Dan mengapa ada rasa takut yang menghinggapi tubuhku hingga berkata kasar dan datar padanya? Ada apa denganku?’
Bel masuk berdentang tiga kali, dan para murid dan guru pun siap mendapatkan dan memberikan ilmu yang―mungkin―bermanfaat bagi mereka. Sekolah St. Întunericului adalah sekolah yang cukup tua tapi popular bagi kalangan bangsawan seperti Jone dan yang lainnya. Jone Claferod adalah anak dari salah satu pengusaha keju yang terkenal sangat enak di bagian Eropa. Mungkin ia terlihat sangat konyol dan tidak peduli, tapi itulah nilai tambah dari anak seorang pengusaha yang termasuk dalam 10 besar kategori pengusaha terkaya didunia. Lalu Shane Williame, gadis yang berasal dari keluarga detective. Sang ibu adalah wanita pertama yang menjadi kepala F.B.I di negara Eropa, sedangkan ayahnya adalah detective yang bertugas memantau perdana menteri. Pantas saja gadis ini sangat menyukai hal-hal yang berbau kasus dan peperangan yang memakai senjata api, sehingga ia diperbolehkan memakai revolver yang selali ia bawa untuk berjaga-jaga. Selanjutnya adalah Fredd Pattinson. Dari segi wajahnya yang sangat tampan dan berkarisma ini pasti kalian akan mengira bahwa ia adalah anak dari pasangan seorang aktor dan aktris ternama? Ya untuk jawaban yang benar, ia memang berasal dari keluarga selebritis terkenal di Hollywood Amerika sana. Beruntungnya Shena memilik Fredd yang baik dan perhatian, tampan lagi.
”Hai Kyna! Tumben sekali pagi ini kau lemas sekali?” sapa gadis berambut merah hati itu menepuk pundak Kyriana. Sedangkan yang ditepuknya hanya menghela nafas.
”Pasti Himewari, iya kan?”
”Yeah, Shena.”
Shena menggeleng kecil, ”Mungkin kau harus bertanya pada Lilian, Kyna. Sepertinya rasa trauma mu sudah mencapai tahap akhir,” jawab Shena serius, terlihat dari matanya yang menatap dalam Kyriana.
”Entahlah, aku juga bingung dengan semua ini. Bisa-bisanya aku trauma terhadap Himewari, padahal waktu itu ia tidak sengaja menyenggolkan cairan asam ke punggungku. Dan lagi aku tidak pernah mau menyentuh dirinya, apalagi tersenyum kepadanya.”
”Tapi―”
Tiba-tiba saja segerombolan murid-murid kelas Kyriana dan Shena masuk kedalam dengan tergopoh-gopoh. Alis Kyriana dan Shena mengerut seketika.
”Ada apa?” tanya Kyriana.
”Itu Himewari mencoba bunuh diri!”
―DEG!
Jantung Kyriana berdetak kencang. Shena pun terlihat terkejut dan berdiri akan menolong Himewari. Tapi Kyriana tak bergeming dari tempat duduknya.
’Apa lagi yang akan kau berikan padaku, Himewari?’
”Cepatlah, Kyna! Kita membutuhkan dirimu! Dia memanggil namamu terus!!” teriak salah satu gerombolan itu. Tapi lagi-lagi Kyriana tetap duduk dengan tangan yang bergetar kencang. Shena yang melihatnya ketakutan pun mencoba menenangkan sahabatnya.
”Kumohon Ky―”
”―Kyaaa!!!!”
Sebuah tubuh terjatuh dari atap sekolah. tubuh itu adalah tubuh Himewari. Sosok wajah yang oriental itu menghadap kedalam dan memperlihatkan Kyriana dan Shena yang menghadap ke jendela tersebut. Rasa terkejut yang bukan main membuat Kyriana terdiam tak percaya dengan yang ia lihat.
’Kuberikan kematianku untuk membalas semuanya.’
BRAGK!!!
.
Rumah duka itu diselimuti banyak orang yang memakai baju hitam dengan setangkai atau seikat bunga berwarna putih dan kuning ditangannya. Wajah murung dan sedih mereka pancarkan kepada langit sore yang begitu gelap.
”...Sepertinya hujan akan turun malam ini, Lilian.” ucap seorang lelaki berumur sekitar 20 tahunan menatap sendu langit sore kala itu.
”Ya, sepertinya langit bersedih juga dengan kematian Himewari, benarkan, Joseph?” tanya wanita yang seumuran dengan lelaki yang bernama Joseph itu.
”Hm... Apa ini ada hubungannya dengan Kyriana?”
Blam!
Suara pintu mobil tertutup terdengar dari samping rumah istana Himewari, dan ke-lima sosok remaja berbaju hitam itu keluar. Salah satunya adalah seorang gadis yang terus menangis dan bergetar kencang tubuhnya, bahkan kakak dan sahabatnya mulai kewalahan menenangkan gadis itu.
”Tenang, Kyna. Ia tidak akan mengganggumu lagi,” ujar sang kakak―Luvi.
”Iya, biarkan ia tenang disana,” tutur Shena sambil menggenggam lengan Kyriana yang terus bergetar.
”Kalian semua? dan―Kyriana?” Joseph menatap tak percaya dengan kehadiran lima sosok remaja yang begitu mencolok dengan persahabatan mereka―terutama Kyriana dan Luvi.
”Ya, Mr. Joseph, Mrs. Lilian, kami datang untuk memberikan penghormatan sederhana kepada Himewari,” jawab Fredd tegas. Joseph dan Lilian saling memandang lalu menatap kembali ke-lima remaja itu.
”Silahkan, tapi apa tidak apa dengan Kyriana? Dia terlihat sangat ketakutan yang sangat amat dalam,” tanya Lilian khawatir kepada anak didiknya. Jone menatap gadis berambut pirang itu.
”Bisakah kau menolongnya, Mrs?” pinta Jone tiba-tiba. Sontak saja membuat semuanya terkejut dengan pemikiran Jone yang mendadak jenius seperti Einstein itu.
Lilian tersenyum, ”Tentu saja. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai pembimbing murid agar bisa terlepas dari permasalahannya.”
Kyriana dibawa Lilian menuju sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari rumah istana Himewari. Sedangkan Joseph mengantarkan ke-empat remaja itu masuk kedalam rumah duka dan memberikan penghormatan terakhir.
Hari sudah menunjukan pukul 11 malam, rumah duka pun mulai sepi dan tinggal Joseph dan ke-empat remaja itu, Luvi, Jone, Shena dan Fredd.
”Baiklah, Mr. Joseph, kami akan pulang. Hari sudah hampir tengah malam,” ujar Fredd sambil menggenggam tangan Shena yang mulai kedinginan. Joseph mengangguk kecil paham dan menyuruh Lilian untuk datang ke mobil mereka yang terpakir tidak jauh.
”Kalau begitu, kalian lebih baik berhati-hati!” tutur Lilian melambaikan tangannya yang dibalas lambaian juga dari anak-anak. Lalu mereka ber-lima pun pulang menuju rumah nenek Kyriana dan Luvi yang agak jauh dari kota dan masuk kepelosok hutan-hutan cemara.
Waktu sudah menunjukan pukul 11.58 malam, hampir separuhnya dimobil itu sudah tertidur lelap. Terkecuali Luvi dan Kyriana yang masih terjaga dimalam itu.
Tik!
Waktu berganti menjadi pukul 11.59 malam, entah ada apa Shena, Fredd, dan Jone terbangun dari tidurnya.
”Tumben sekali kalian bangun? Ada apa?” tanya Luvi.
”Sesuatu... dalam mimpiku,” jawab mereka bertiga bersamaan. Hal itu mengundang rasa heran dan aneh dari Luvi dan Kyriana.
”Apa itu?”
Tik!
”Mimpi sesosok mon―AWAAAASSS!!!!”
Tanpa disadari Luvi, sebuah truk besar berjalan kencang kearahnya, dengan sigap ia memutar kekanan dan akhirnya menabrak sebuah pohon.
BRAK!!!
Seketika, kesadaran mereka menghilang bersamaan dengan kecelakaan disatu sudut kota lagi.
.
Tik
Tik
Tik
Suara detak jam terdengar sangat keras ditelinga para remaja itu. Perlahan-lahan mereka buka kelopak mata itu dan mengerjapkan beberapa kali agar bisa melihat dengan jelas dimana mereka berada.
”―dimana, ini?” lirih Jone perlahan. Saat ia mencoba bangun, tiba-tiba saja tubuhnya terasa sangat sakit sehingga ia berteriak.
”Auch!”
”A-ada apa?” tanya Shena yang sudah duduk.
”Badanku sakit sekali!” rutuk Jone.
”Kau tidak apa, Shena?” tanya Fredd disampingnya, Shena menjawabnya dengan anggukan kecil.
”Lu-Luvi....” lirih Kyriana terseok-seok menghampiri kakaknya yang masih terbaring lemah dan tubuhnya sangat sakit.
”Iya, Kyna... Aku ada disini,” jawab Luvi menggenggam erat tangan adiknya yang berbeda satu tahun tersebut.
”Dimana ini?” tanya Shena meneliti tempat keadaan sekitar. Tempat mereka saat ini adalah sebuah ruangan dengan luas 3 x 5 meter yang kosong dan gelap.
”Tidak tahu...” gumam Jone.
“Jadi… Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya kembali Fredd.
”E-entahlah... sepertinya kita terjebak di du-dunia yang aneh,” jawab Kyriana bergetar ketakutan. Mendengar jawaban yang sepertinya sangat bisa diterima itu membuat semua mata tertuju kepada Kyriana.
”Damn! Tapi kenapa kita!?” teriak Jone frustasi seakan telah mengerti sesuatu akan terjadi kepada mereka.
”Dunno... sepertinya ada yang mencoba mempermainkan kita dan sengaja memasukan kita ke dunia ini,” jawab Luvi sarkatis.
Fredd menghela nafas panjang, ”Lebih baik kita mulai bergerak dan pergi dari sini. Sadarkah kalian kalau hawa disini mulai tidak enak?”
Semua pandangan tertuju pada pintu yang menghiasi sudut ruangan itu. Dan karena merasa hawa pun mulai tidak enak membuat mereka berlima harus keluar dari ruangan itu. Tanpa sadar akan ada bahaya yang menerjang mereka suatu saat, kapanpun itu.
.
.
.
To Be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar