Rabu, 30 Mei 2012

Lume A întunericului (2)


”Dimana ini?” tanya Shena meneliti tempat keadaan sekitar. Tempat mereka saat ini adalah sebuah ruangan dengan luas 3 x 5 meter yang kosong dan gelap.

”Tidak tahu...” gumam Jone.

“Jadi… Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya kembali Fredd.

”E-entahlah... sepertinya kita terjebak di du-dunia yang aneh,” jawab Kyriana bergetar ketakutan. Mendengar jawaban yang sepertinya sangat bisa diterima itu membuat semua mata tertuju kepada Kyriana.

”Damn! Tapi kenapa kita!?” teriak Jone frustasi seakan telah mengerti sesuatu akan terjadi kepada mereka.

”Dunno... sepertinya ada yang mencoba mempermainkan kita dan sengaja memasukan kita ke dunia ini,” jawab Luvi sarkatis.

Fredd menghela nafas panjang, ”Lebih baik kita mulai bergerak dan pergi dari sini. Sadarkah kalian kalau hawa disini mulai tidak enak?”


Semua pandangan tertuju pada pintu yang menghiasi sudut ruangan itu. Dan karena merasa hawa pun mulai tidak enak membuat mereka berlima harus keluar dari ruangan itu. Tanpa sadar akan ada bahaya yang menerjang mereka suatu saat, kapanpun itu.

 .

Lume A întunericului

Warn: Typo (s) , alur aneh dan gaje

Disclaim: OWNED Shaneeta

Capther : 2

Don’t like Don’t read

En(d)joy please^^

.

.


Mereka berlima berjalan menelusuri lorong-lorong gelap gulita yang hanya diterangi oleh obor yang tertancap satu persatu di sudut lorong itu. Suasana yang sunyi itu membuat para gadis mencengkram kedua telapak tangannya erat. Hawa dingin menusuk dalam ke tulang mereka semua. Suara langkah mereka menggema beberapa kali dan akhirnya hilang ditelan angin. Luvi memimpin perjalanan itu, disebelahnya terdapat Kyriana yang terus mencengkram lengan Luvi keras. Diikuti dibelakang Luvi dan Kyriana terdapat Shena, Fredd, dan Jone yang menatap waspada disekitarnya. Tak dipungkiri, Shena yang notabene-nya seorang gadis pemberani sedikit ketakutan dengan tempat yang sedang mereka arungi. Hawa hitam yang dihasilkan oleh gelapnya penerangan dan dinginnya angin malam itu terasa kuat.

”Apa kalian pernah dengar mitos tua tentang lume a întunericului?” Kyriana memulai pembicaraannya dengan lirih ketakutan. Luvi dan semua menatap Kyriana bersamaan.

”Lume a întunericului? Dunia kegelapan?” tanya Luvi.

”Yeah... mitos tua para orang tua yang sengaja menakut-nakuti kita akan tengah malam,” Ucap Jone mencibir.

”Um... Aku tidak terlalu tahu, tapi... menurut sepengetahuanku, dunia itu adalah dunia yang menyeramkan, siapapun yang masuk ke dunia itu harus memecahkan teka-teki dan melawan makhluk yang menginginkan kematian... kalau tidak...” Shena menunduk kebawah menatap lantai keramik yang retak dan penuh debu itu.

”...”

”Mereka akan terperangkap disana selamanya.” Lagi-lagi semua mata menatap kepada Kyriana.

”Lalu... Apa hubungannya dengan semua ini?” tanya Fredd masih tidak mengerti dengan pembicaraan kali ini.

DUK!

Dengan cepat Luvi menoleh kearah sumber suara dimana sebuah pintu kayu tua dengan ornamen tua menghiasi dinding permukaan pintu itu.

Ya...

Suara itu berasal dari pintu yang tepat berada di dua meter depan mereka.

”A-apa itu?”

”Lebih baik kita bersembunyi disuatu tempat yang tak terlihat oleh ’nya’,” ujar Luvi mencari-cari tempat yang bisa untuk mereka ber-lima.

”I-itu mungkin bisa!” kata Fredd menunjuk kearah sebuah lemari yang cukup besar dengan pintunya yang terbuka. Luvi mendekati lemari itu dengan meng-cek isi didalamnya.

”Cukup untuk kita ber-lima, wanita duluan.”

DUK!!

Suara aneh yang berasal dari pintu tua itu mulai mengeras. Dan bunyi yang memilukan dari kenop pintu tersebut berbunyi pertanda pintu akan dibuka.

”Cepat!” ujar Jone mulai ketakutan. Kyriana dan Shena masuk pertama lalu diikuti Jone, Luvi dan Fredd. Fredd tutup pintu lemari itu tak sempurna, supaya ia bisa melihat siapa yang sebenarnya membuat takut remaja itu.

Kriek!!

Tap.

Tap.

Tap.

Suara geraman halus terdengar mengerikan diluar lemari itu. Jone dan yang lainnya menahan nafas seakan makhluk itu bisa mengetahui mereka lewat nafas mereka. Jantung itu berdegup-degup kencang dengan desiran darah yang mengalir sangat cepat diatas batas normal.

Tap.

Tap.

Makhluk itu berjalan kembali ke arah asal Fredd dan kawan-kawan berasal. Tumbuh rasa ke-ingin tahu-an yang besar, Fredd mencoba mengintip dari celah lemari tersebut.

DEG!!

Makhluk―monster besar yang menyeramkan dengan gigi taring yang tumbuh besar dan keluar dari mulutnya, juga bentuk tubuhnya yang seperti lumpur coklat itu. Spontan Fredd sangat terkejut hingga ia melangkah mundur dan menubruk Jone.

Bruk!

”Grraooww...!” Monster mengerikan itu berhenti berjalan dan menoleh kebelakang, tepatnya ke arah lemari itu.

Tangan Shena bersiap memegang revolver yang terisi penuh oleh 32 biji timah yang akan siap meluncur. Tapi wanita tetaplah wanita, keberaniannya itupun tak bisa menutupi rasa takut yang luar biasa dalam benaknya.

BRAKK!!!

Suara gebrakan terdengar dari arah yang awalnya akan dituju oleh monster tersebut.

”Cepat, Lilian!”

”GRAAOOWWW!!!!!!” Geraman monster itu kembali mengeras setelah teriakan seseorang tadi. Langkahnya berbunyi cepat pertanda dia sedang berlari dan menjauh dari lemari.

Jone menghela nafas panjang dan berkata, ”Akhirnya...”

”Tunggu, apa kalian tadi mendengar teriakan Mr. Joseph yang berteriak memanggil nama Mrs. Lilian?” tanya Luvi. Kyriana dan Shena mengangguk.

”Sepertinya mereka berdua juga masuk kedalam dunia ini,” gumam Kyriana.

”Huh? Dunia apa, Kyna?” tanya Luvi. Kyriana menatap kakaknya dalam.

” Lume a întunericului... Dunia kegelapan.”

.

.

”Hosh... Hosh... Tu-tunggu, Mr. Joseph... A-apa kau yakin ini jalan yang benar?” tanya Lilian sambil mengatur nafasnya yang tak karuan itu, begitupun dengan Joseph.

“Entahlah… Aku pun tak yakin, tapi lebih bai―”

”GRAAOOOOWWW!!!!!!”

”Lari!!!”

Kedua insan itu melanjutkan larinya yang tak tentu arahnya. Joseph menarik tangan Lilian ketika wanita itu mulai melamban. Rasa lelah yang besar tidak membuat Joseph untuk berhenti walaupun kakinya sudah tidak kuat lagi.

’Bagus! Ada tikungan’ pikir Joseph tanpa melihat sesuatu diujung dari tikungan tersebut.

”GRAAOOOWWW!!!!!!!!” Geraman monster itu semakin terdengar keras karena jaraknya mulai terlihat dengan mata Lilian.

”Oh, tidak...”

”Kena-”

Gotcha.

”GRAAAWWW!!!” Monster lain berjaga diujung tikungan tersebut. Bentuk tengkorak burung yang besar dengan mata yang merah menyala.

”Jo-Joseph... Bagaimana i-ini!?” Tanya Lilian sambil mencengkram lengan Joseph ketakutan.

”Tidak ada jalan lain...” lirih Joseph.

”MR. JOSEPH MINGGIR!!!!!” Teriakan Fredd membuat Joseph menoleh bersamaan dengan suara tembakan yang menggema cepat.

DOR!!!!

”Graaaoooww!!!!” Monster lumpur itu hancur lebur dan lumpur-lumpurnya pun menghilang. Joseph dan Lilian menghela nafas melihat ada yang lain disini.

”GRAAAWWW!!!” Monster burung itu mengepakan sayap tulangnya dan terbang kearah mereka semua.

”LARIII!!!!” teriak Joseph menarik tangan Lilian dan berlari bersama yang lainnya. Aksi kejar-mengejar pun terjadi dilorong-lorong sepi tersebut. Derap langkah kaki mereka menuruni tangga yang cukup licin apabila tidak berhati-hati. Tepat didepan anak tangga terakhir ada pintu yang terbuka dan mengarah ke ruang tamu, tapi pintu itu terus bergerak dan akan tertutup. Dengan cepat, Mereka pun masuk kedalam sana.

BRAK!!!

”Hosh... Hosh.... tu-tunggu Shena!” teriak Kyriana kencang saat melihat Shena terjatuh. Tiba-tiba saja Fredd mendapati perasaannya yang tak enak.

”Shena!!! Cepat!!!” teriak Jone dari ambang pintu.

”Maaf teman-teman, aku tidak bisa... pergilah...” lirih Shena menunduk dalam.

”SHEEENNAAAA!!!”

Blam!

Pintu tertutup sempurna dan terkunci rapat tanpa adanya kunci yang bisa membuka pintu itu. Fredd menggedor-gedor keras sambil berusaha mendobrak pintu besi tua tersebut. Joseph dan Luvi berusaha menghentikan Fredd, sedangkan yang lainnya terdiam suram.

”Shenaaa!!!”

.

.

.

To Be Continued

Lume A întunericului (1)


Lume A întunericului



Chapter : 1

Don’t like Don’t read

En(d)joy please^^

.

.

.


            Dahulu kala pada tahun 1878, disebuah kota tua yang bernama întunericului berada di negara Eropa memiliki beberapa mitos yang terkenal hingga ke belahan dunia. Salah satunya adalah Lume A întunericului. Sebuah mitos yang tidak memperbolehkan anak remaja terjaga lebih dari pukul 12 malam. Kalau kau terjaga, maka kau akan masuk dalam Lume A întunericului.

”Astaga, jadi kita tidak pernah dibolehkan terjaga lebih dari pukul 12 malam, ibu?” tanya bocah lelaki berambut hitam itu. Sang ibu hanya mengangguk kecil dan tersenyum kecil.

”Aku takut, ibu...” ucap bocah perempuan yang sedang menggenggam lengan ibunya. Sang ibu tersenyum kearahnya lalu mengelus lembut rambut pirang bocah itu.

”Makanya, Kyriana dan Luvi harus cepat tidur sebelum pukul 12 malam,” ujar sang ibu.

Dua bocah yang bernama Kyriana dan Luvi itu mengangguk cepat lalu berbaring ditempat tidur yang berbeda itu. Sang ibu menyelimuti mereka dengan selimut agar suhu tubuh mereka tetap hangat di bawah naungan angin kencang yang ada diluar rumah. Sesaat hati sang ibu berdoa kecil.

’Semoga setiap malam tidak mengambil mereka dari tidurnya.’

.

            Sepuluh tahun sudah berlalu, kota întunericului yang dahulu berdedikasi dengan kota tua-nya kini berubah menjadi salah satu daerah yang memiliki banyak pencangkar langit disetiap sudut kotanya. Kota modern―mungkin itu yang lebih pantas disebutnya.

            Dua sosok remaja yang kini sedang berjalan dengan seragam mereka itupun sedang bercengkrama satu sama lain. Disalah satu tangan mereka menggenggam tas yang berbentuk persegi panjang yang kecil dengan warna norak membalut tas itu.

”Luvi, apa kau ingat kalau Shena dan Fredd itu berpacaran sudah setahun lamanya?” tanya gadis berambut pirang itu menatap lelaki disebelahnya.

”Yeah, tentu saja Kyna, aku dan yang lainnya sudah mempersiapkan semua keperluan yang kita butuhkan untuk memberikan kejutan kepada mereka berdua!” jawab Luvi―lelaki yang berjalan bersama Kyriana.

Kyriana tersenyum lebar dan kedua tangannya bertepuk kecil. ”Baguslah! Jadi kita akan menginap dirumah nenek! Asyik!!!” gumamnya girang.

”Kyna! Luvi!” Terdengar suara teriakan yang memanggil nama mereka berdua. Luvi dan Kyriana pun mencari asal suara tersebut.

”Sebelah si―hey!” Teriakan tersebut menghilang seraya Luvi dan Kyriana mendapati orang yang meneriaki nama mereka keras. Tiba-tiba saja Luvi dan Kyriana merasa heran dengan orang tersebut.

”Kenapa kau, Jone?” tanya Luvi sambil mendekati Jone bersama Kyriana yang mengikutinya dari belakang.

”Tukang sampah sialan! oh―hey! Kalian berdua mau berangkat sekolah? Bolehkan aku berangkat bersama kalian?” pinta lelaki berambut coklat cepak itu bertubi-tubi. Luvi menghela nafas panjang lalu menarik tangan Jone dari tempatnya berdiri tadi. Sedangkan Kyriana hanya bisa menggelengkan kepalanya.

”Hey, Jone... Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi, kau tadi kenapa?” tanya Luvi lagi sambil berjalan.

”Gara-gara tukang sampah sialan itu aku jadi ketakutan tahu!” geram Jone kesal.

”Memangnya kenapa?” tanya Kyriana yang sedari tadi hanya diam saja mengikut mereka dari belakang.

Jone menghela nafas kecil lalu berkata, ”Tukang sampah itu berkata kepada ku kalau aku dan teman-temanku akan terhisap dalam suatu masalah besar yang mempertaruhkan hidup dan mati kita. Aku pun tidak tahu pasti apa yang akan terjadi, tapi itu sungguh membuatku takut!”

”Hm... sudahlah, tidak usah kau pikirkan, Jone. Mungkin saja itu peringatan kepadamu agar tidak baku hantam lagi dengan sekolah lainnya,” ujar Luvi. Sedangkan Jone hanya mendumel tak jelas mendengar jawaban Luvi.

’Mengapa aku juga akan merasa sesuatu yang akan datang sebentar lagi? Sesuatu yang... Tidak masuk akal?’ pikir Kyriana.

Mereka bertiga berjalan dalam keheningan yang hampa. Jone terdiam karena ia masih berpikir yang tidak-tidak mengenai ancaman itu, sedangkan Luvi terlihat jelas diraut wajahnya yang sangat mengantuk itu dan malas untuk membuka mulut sekedar berbicara. Kyriana? Ia masih terlamun oleh pikiran yang ia harapkan datang tapi tak kunjung datang juga.

Tak terasa kaki mereka bertiga sudah melangkah masuk kedalam gerbang sekolah yang terbuka lebar membuka setiap murid dan guru untuk masuk kedalam. Karena Luvi dan Kyriana berbeda tingkat kelas, sang kakak―Luvi naik ke lantai kedua bersama Jone yang satu tingkatan tapi berbeda kelas. Saat Kyriana berada dilorong, seseorang memanggil nama kecilnya.

”Kyna!”

”Hm?” Kyriana memutar kepalanya 90º kearah kanan. Ditatapnya gadis berambut hitam legam pendek sebahu yang ia ikat cepol keatas.

”Kau sudah mengerjakan PR Matematika, hm?” tanya gadis itu tepat berjalan disamping Kyriana.

”Tentu saja sudah, aku tidak mau nilaiku mengecil hanya karena melewati satu tugas pun,” Jawabnya datar. Gadis itu mengembungkan pipinya kesal karena Kyriana sangat datar terhadapnya.

”Kenapa kau selalu seperti itu kepadaku? Apa salahku?” tanyanya bertubi-tubi.

”Entahlah, aku merasa tidak pernah nyaman berada bersamamu.”

Gadis itu berhenti sejenak menatap punggung Kyriana. Dahinya mengerut kecil pertanda tidak suka. Matanya yang mulai berkaca-kaca siap menjatuhkan butiran-butiran bening yang akan membuat jejak aliran sungai yang cukup deras.

’Jahat... Kau jahat, Kyriana!’ rutuknya dalam hati. Ia segera menghapus aliran sungai itu dan berlari kencang ke arah yang berlawanan dengan Kyriana. Langkah kakinya terdengar cukup keras oleh Kyriana. Gadis berambut pirang itu menghela nafas panjang, ia sekat peluh yang membasahi keningnya itu.

’Mengapa aku selalu tidak pernah nyaman berada didekat Metis? Dan mengapa ada rasa takut yang menghinggapi tubuhku hingga berkata kasar dan datar padanya? Ada apa denganku?’



Bel masuk berdentang tiga kali, dan para murid dan guru pun siap mendapatkan dan memberikan ilmu yang―mungkin―bermanfaat bagi mereka. Sekolah St. Întunericului adalah sekolah yang cukup tua tapi popular bagi kalangan bangsawan seperti Jone dan yang lainnya. Jone Claferod adalah anak dari salah satu pengusaha keju yang terkenal sangat enak di bagian Eropa. Mungkin ia terlihat sangat konyol dan tidak peduli, tapi itulah nilai tambah dari anak seorang pengusaha yang termasuk dalam 10 besar kategori pengusaha terkaya didunia. Lalu Shane Williame, gadis yang berasal dari keluarga detective. Sang ibu adalah wanita pertama yang menjadi kepala F.B.I di negara Eropa, sedangkan ayahnya adalah detective yang bertugas memantau perdana menteri. Pantas saja gadis ini sangat menyukai hal-hal yang berbau kasus dan peperangan yang memakai senjata api, sehingga ia diperbolehkan memakai revolver yang selali ia bawa untuk berjaga-jaga. Selanjutnya adalah Fredd Pattinson. Dari segi wajahnya yang sangat tampan dan berkarisma ini pasti kalian akan mengira bahwa ia adalah anak dari pasangan seorang aktor dan aktris ternama? Ya untuk jawaban yang benar, ia memang berasal dari keluarga selebritis terkenal di Hollywood Amerika sana. Beruntungnya Shena memilik Fredd yang baik dan perhatian, tampan lagi.

”Hai Kyna! Tumben sekali pagi ini kau lemas sekali?” sapa gadis berambut merah hati itu menepuk pundak Kyriana. Sedangkan yang ditepuknya hanya menghela nafas.

”Pasti Himewari, iya kan?”

”Yeah, Shena.”

Shena menggeleng kecil, ”Mungkin kau harus bertanya pada Lilian, Kyna. Sepertinya rasa trauma mu sudah mencapai tahap akhir,” jawab Shena serius, terlihat dari matanya yang menatap dalam Kyriana.

”Entahlah, aku juga bingung dengan semua ini. Bisa-bisanya aku trauma terhadap Himewari, padahal waktu itu ia tidak sengaja menyenggolkan cairan asam ke punggungku. Dan lagi aku tidak pernah mau menyentuh dirinya, apalagi tersenyum kepadanya.”

”Tapi―”

Tiba-tiba saja segerombolan murid-murid kelas Kyriana dan Shena masuk kedalam dengan tergopoh-gopoh. Alis Kyriana dan Shena mengerut seketika.

”Ada apa?” tanya Kyriana.

”Itu Himewari mencoba bunuh diri!”

―DEG!

Jantung Kyriana berdetak kencang. Shena pun terlihat terkejut dan berdiri akan menolong Himewari. Tapi Kyriana tak bergeming dari tempat duduknya.

’Apa lagi yang akan kau berikan padaku, Himewari?’

”Cepatlah, Kyna! Kita membutuhkan dirimu! Dia memanggil namamu terus!!” teriak salah satu gerombolan itu. Tapi lagi-lagi Kyriana tetap duduk dengan tangan yang bergetar kencang. Shena yang melihatnya ketakutan pun mencoba menenangkan sahabatnya.

”Kumohon Ky―”

”―Kyaaa!!!!”

Sebuah tubuh terjatuh dari atap sekolah. tubuh itu adalah tubuh Himewari. Sosok wajah yang oriental itu menghadap kedalam dan memperlihatkan Kyriana dan Shena yang menghadap ke jendela tersebut. Rasa terkejut yang bukan main membuat Kyriana terdiam tak percaya dengan yang ia lihat.

’Kuberikan kematianku untuk membalas semuanya.’

BRAGK!!!

.

Rumah duka itu diselimuti banyak orang yang memakai baju hitam dengan setangkai atau seikat bunga berwarna putih dan kuning ditangannya. Wajah murung dan sedih mereka pancarkan kepada langit sore yang begitu gelap.

”...Sepertinya hujan akan turun malam ini, Lilian.” ucap seorang lelaki berumur sekitar 20 tahunan menatap sendu langit sore kala itu.

”Ya, sepertinya langit bersedih juga dengan kematian Himewari, benarkan, Joseph?” tanya wanita yang seumuran dengan lelaki yang bernama Joseph itu.

”Hm... Apa ini ada hubungannya dengan Kyriana?”

Blam!

Suara pintu mobil tertutup terdengar dari samping rumah istana Himewari, dan ke-lima sosok remaja berbaju hitam itu keluar. Salah satunya adalah seorang gadis yang terus menangis dan bergetar kencang tubuhnya, bahkan kakak dan sahabatnya mulai kewalahan menenangkan gadis itu.

”Tenang, Kyna. Ia tidak akan mengganggumu lagi,” ujar sang kakak―Luvi.

”Iya, biarkan ia tenang disana,” tutur Shena sambil menggenggam lengan Kyriana yang terus bergetar.

”Kalian semua? dan―Kyriana?” Joseph menatap tak percaya dengan kehadiran lima sosok remaja yang begitu mencolok dengan persahabatan mereka―terutama Kyriana dan Luvi.

”Ya, Mr. Joseph, Mrs. Lilian, kami datang untuk memberikan penghormatan sederhana kepada Himewari,” jawab Fredd tegas. Joseph dan Lilian saling memandang lalu menatap kembali ke-lima remaja itu.

”Silahkan, tapi apa tidak apa dengan Kyriana? Dia terlihat sangat ketakutan yang sangat amat dalam,” tanya Lilian khawatir kepada anak didiknya. Jone menatap gadis berambut pirang itu.

”Bisakah kau menolongnya, Mrs?” pinta Jone tiba-tiba. Sontak saja membuat semuanya terkejut dengan pemikiran Jone yang mendadak jenius seperti Einstein itu.

Lilian tersenyum, ”Tentu saja. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai pembimbing murid agar bisa terlepas dari permasalahannya.”

Kyriana dibawa Lilian menuju sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari rumah istana Himewari. Sedangkan Joseph mengantarkan ke-empat remaja itu masuk kedalam rumah duka dan memberikan penghormatan terakhir.

Hari sudah menunjukan pukul 11 malam, rumah duka pun mulai sepi dan tinggal Joseph dan ke-empat remaja itu, Luvi, Jone, Shena dan Fredd.

”Baiklah, Mr. Joseph, kami akan pulang. Hari sudah hampir tengah malam,” ujar Fredd sambil menggenggam tangan Shena yang mulai kedinginan. Joseph mengangguk kecil paham dan menyuruh Lilian untuk datang ke mobil mereka yang terpakir tidak jauh.

”Kalau begitu, kalian lebih baik berhati-hati!” tutur Lilian melambaikan tangannya yang dibalas lambaian juga dari anak-anak. Lalu mereka ber-lima pun pulang menuju rumah nenek Kyriana dan Luvi yang agak jauh dari kota dan masuk kepelosok hutan-hutan cemara.

Waktu sudah menunjukan pukul 11.58 malam, hampir separuhnya dimobil itu sudah tertidur lelap. Terkecuali Luvi dan Kyriana yang masih terjaga dimalam itu.

Tik!

Waktu berganti menjadi pukul 11.59 malam, entah ada apa Shena, Fredd, dan Jone terbangun dari tidurnya.

”Tumben sekali kalian bangun? Ada apa?” tanya Luvi.

”Sesuatu... dalam mimpiku,” jawab mereka bertiga bersamaan. Hal itu mengundang rasa heran dan aneh dari Luvi dan Kyriana.

”Apa itu?”

Tik!

”Mimpi sesosok mon―AWAAAASSS!!!!”

Tanpa disadari Luvi, sebuah truk besar berjalan kencang kearahnya, dengan sigap ia memutar kekanan dan akhirnya menabrak sebuah pohon.

BRAK!!!

Seketika, kesadaran mereka menghilang bersamaan dengan kecelakaan disatu sudut kota lagi.

.

Tik

Tik

Tik

Suara detak jam terdengar sangat keras ditelinga para remaja itu. Perlahan-lahan mereka buka kelopak mata itu dan mengerjapkan beberapa kali agar bisa melihat dengan jelas dimana mereka berada.

”―dimana, ini?” lirih Jone perlahan. Saat ia mencoba bangun, tiba-tiba saja tubuhnya terasa sangat sakit sehingga ia berteriak.

”Auch!”

”A-ada apa?” tanya Shena yang sudah duduk.

”Badanku sakit sekali!” rutuk Jone.

”Kau tidak apa, Shena?” tanya Fredd disampingnya, Shena menjawabnya dengan anggukan kecil.

”Lu-Luvi....” lirih Kyriana terseok-seok menghampiri kakaknya yang masih terbaring lemah dan tubuhnya sangat sakit.

”Iya, Kyna... Aku ada disini,” jawab Luvi menggenggam erat tangan adiknya yang berbeda satu tahun tersebut.

”Dimana ini?” tanya Shena meneliti tempat keadaan sekitar. Tempat mereka saat ini adalah sebuah ruangan dengan luas 3 x 5 meter yang kosong dan gelap.

”Tidak tahu...” gumam Jone.

“Jadi… Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya kembali Fredd.

”E-entahlah... sepertinya kita terjebak di du-dunia yang aneh,” jawab Kyriana bergetar ketakutan. Mendengar jawaban yang sepertinya sangat bisa diterima itu membuat semua mata tertuju kepada Kyriana.

”Damn! Tapi kenapa kita!?” teriak Jone frustasi seakan telah mengerti sesuatu akan terjadi kepada mereka.

”Dunno... sepertinya ada yang mencoba mempermainkan kita dan sengaja memasukan kita ke dunia ini,” jawab Luvi sarkatis.

Fredd menghela nafas panjang, ”Lebih baik kita mulai bergerak dan pergi dari sini. Sadarkah kalian kalau hawa disini mulai tidak enak?”

Semua pandangan tertuju pada pintu yang menghiasi sudut ruangan itu. Dan karena merasa hawa pun mulai tidak enak membuat mereka berlima harus keluar dari ruangan itu. Tanpa sadar akan ada bahaya yang menerjang mereka suatu saat, kapanpun itu.

.

.

.

To Be Continued

Maafin gue, Fisika!


 TEET!!!!

Bel masuk pun terdengar nyaring seantero lingkungan salah satu sekolah negeri di Bogor. Siswa-siswi sekolah yang sedang asyik-asyiknya mencontek PR itu pun mulai mengerjakan PR tersebut dengan cepat, takut guru mata pelajaran yang bersangkutan itu masuk ke kelas.

"Selamat pagi anak-anak!" tiba-tiba saja seorang guru wanita dengan kacamata tebalnya berteriak di ambang pintu. Mata tajam itu mulai menelusuri setiap anak yang ada di dalam kelas.

"Sial, gurunya udah dateng lagi!" gumam seorang anak cowok yang ada di pojokan. Dengan cepat semua murid itu pun kembali di kursi kayu mereka masing-masing.

Guru itu melangkah pelan tapi pasti ke meja yang sudah disiapkan pihak sekolah. kalau saja gak ada mejanya, pasti tuh guru gak masuk ke kelas, batin semua anak.

"Ehem, pelajaran hari ini cukup dengan tugas yang akan ibu berikan ... jadi, ibu harap kalian MEMPERHATIKAN apa yang ibu sampaikan," ujar guru itu dengan sangat tegas. Lebih tegas dari pak camat yang sedang memarahi warganya yang lelet dalam kerja bakti.

"BAIK BU!!!"

Sang guru pun menjelaskan sedetail mungkin apa yang harus dikerjakan oleh sang murid didiknya. Salah satu murid itu adalah Jen, atau nama yang lebih lengkapnya Jennico Tumbuan.

"Anjrit! masa disuruh persentasi satu bab fisika sih!?" keluh Jen sambil meremas kecil pulpen hitamnya. Temannya, Yanti Putriningrat Adya Sukuwardoyo, hanya menatap horror ke depan papan tulis. Jen merasa ada yang aneh dengan temannya yang keturunan ningrat ini.

"Kenapa lo?" tanya Jen penasaran. Yanti hanya menjawabnya dengan arahan tunjukan ke depan papan tulis. Jen pun mengikuti arah tunjukan Yanti itu, dan menangkap satu kalimat yang membuatnya semakin terkejut.

'SATU KELOMPOK TERDIRI DARI 2 ORANG, DAN DIPILIH OLEH SAYA'

Itulah ... pesan dari neraka untuk Jen.

=.=

"Haaa!!! menyeramkan sekaliii!!! kenapa juga gue harus sekelompok sama si 'Fisika' itu!!"

Yanti menyeruput es teh poci miliknya sambil memakan sedikit makanan ringan, "yah ... udah takdir lo, Jen."

"Ngik..."

"Tapi, Jen ... bukannya bagus ya lo sekelompok ama si 'Fisika'? jadi ntar lo gak usah mikir banyak tuh ama rumus fisika," Yanti berujar. Jen berpikir sejenak. Bener juga ya kata Yanti? si 'Fisika' kan orangnya pendiem, jadi bisa gue akalin aja tuh anak? yeah! batin Jen bersorak sorai dalam hatinya.

Yanti melihat teman sebangkunya sedang senyam-senyum sendiri seperti orang gila. Kayaknya si Jen punya akal busuk nih ama si 'Fisika' ... batin Yanti.

"Eh, gue ke si Tony dulu ye?" tanpa mendengar jawaban Jen, Yanti pun langsung berjalan keluar kelas sampai langkahnya pun tak terdengar. Jen masih di alam khayalannya, sampai akhirnya ada yang menjatuhkannya ke dunia asli.

"Jen, kamu bisa kan bikin animasi GLBB?" tanya orang yang menjatuhkan Jen dari dunia khayalannya.

"Eh? apa? kenapa?"

"Hhh ... kamu bisa kan bikin animasi GLBB?" ulangnya.

"Oh, lo 'Fisika' ... bisa, emang mau di bikinnya kapan?"

"Kalo bisa secepetnya, waktu kita gak banyak," jawab 'Fisika' datar. Jen menjawabnya dengan anggukan dua kali. Karena merasa dimengerti, 'Fisika' pun berjalan keluar kelas dengan diam. Sesaat ia membalikan badannya menghadap kearah Jen.

"Jangan panggil aku 'Fisika'," ucapnya. lalu ia membalikan badannya.

"Kamu gak tau rasanya diejek ..."

Jen tertegun dengan kalimat terakhir 'Fisika'. Dia bisa merasakan dari suara si 'Fisika' kalau dia memang tidak menyukai nama itu. Memang namanya 'Fisika', lebih tepatnya Fisikandha Reviana.

Sepertinya waktu bel istirahat hari ini lebih cepat dari biasanya, atau karena Jen nya saja yang merasa kalau istirahatnya saja lebih cepat? Entahlah ....

"Woy, Jen! diem aja lo ... tumben gak ke kantin? biasanya bareng ama si Ningrat itu ..." tanya seorang lelaki berambut coklat itu.

"Sorry, Fendi ... gue lagi gak mood," jawab Jen asal-asalan.

"Hm ... oh iya, tadi gue liat si 'Fisika' diejek abis-abisan loh sama anak-anak kantin ... sampe-sampe dia dilemparin tomat busuk segala lagi!" cerita Fendi membuat Jen terkejut.

"Serius lo?"

"Seratus rius deh buat lo! gratis!"

"Jah, dia malah becanda ... trus, si kan―err ... maksud gue si 'Fisika'nya gimana?" tanya Jen.

"Dia lari keluar kantin, gak tau deh kemana ..." jawab Fendi santai sambil mengangkat satu kakinya keatas meja.

"Oh ...." Jen memandang lantai keramik yang berwarna putih itu.

"Jangan panggil aku 'Fisika',"

"Kamu gak tau rasanya diejek ..."

kalimat itu terus mengiang-iang di kepala Jen. Ia merutuki dirinya sendiri yang sering mengejeknya setiap hari.

Hhh ...

Ya Tuhan, semoga aku bisa meminta maaf sama Fisi-eh ... Fisikandha maksud saya...

=.=

Sudah seminggu Fisikandha tidak masuk sekolah, padahal hari ini adalah hari dimana persentasinya akan dimulai. Jen dapat giliran kedua, otomatis Jen harus bekerja sendirian demi mendapatkan nilai yang cukup.

"Jen, Fisika gak ada kabar?" tanya Yanti.

Jen hanya menggeleng lemah, "Gak ada, Yan ... kayaknya dia emang udah terlanjur sakit hati sama kejadian di kantin dulu."

"Oh? jadi lo udah tau?"

"Iya, Fendi yang ngasih tau."

"Jennico Tumbuan dan Fisikandha Reviana!" panggil guru fisika itu. Jen pun berjalan masuk ke dalam kelas dan menyiapkan CD hasil persentasinya.

"Mana Kandha?" tanya guru itu.

"Gak masuk bu."

"Oh ... ya sudah, kau persentasilah sendiri disini."

Jen pun mempersentasikan hasil kerjanya yang menggunakan sistem kebut semalam itu dengan baik. walaupun sedikit tersendat saat guru itu menanyakan pertanyaan yang di luar pembahasan persentasinya.

"Wes! bagus juga hasil SKS lo, man! Hahaha ..." Ucap Fendi sambil memukul punggung Jen keras.

"Aduh! sialan lo!" Jen dan Fendi pun berlari-larian di lapangan layaknya film india 'Kuch Kuch Hota Hai'. Saat Jen melewati ruang guru, ia melihat sesosok perempuan remaja yang ia kenal.

"Fisika?"

Langkahnya terhenti saat Fisikandha pun menoleh ke arahnya. Terlihat penampilan Fisikandha berbeda. Bukan seperti di sinetron-sinetron yang awalnya cupu jadi cakep banget. Tapi Fisikandha tidak memakai seragam sekolah yang biasanya di pakai, melainkan sebuah baju yang mirip dengan baju sekolah di Jepang.

"Jen?" sahut Fisikandha sambil mendekati Jen.

Jen menatapnya bingung, "kok lo gak pake ..."

"Oh, aku pindah ke Jepang hari ini, jadi aku udah mau keluar." Sela Fisikandha. Lagi-lagi Jen terkejut.

"Apa karena kejadian kemarin lo pindah?" tanya Jen was-was.

Fisikandha menggeleng, "Nggak kok ... ini emang pilihan aku yang ingin pindah ke Jepang."

Jen hanya ber-oh ria, sampai akhirnya teman-teman Jen memanggilnya untuk kembali ke kelas.

"Umh ... gue ke kelas ya," ucap Jen ragu. Fisikandha tersenyum dan mengangguk kecil. Jen pun melangkah menjauhi perempuan itu perlahan. Tiba-tiba saja Jen berhenti lalu membalikan badannya menghadap Fisikandha.

"Maafin gue, Fisika ..., gue banyak salah sama lo." Akhirnya kalimat itu terucap juga dari mulut Jen. Fisikandha terkejut dengan sikap Jen yang berbeda, tapi ia kembali mengukir senyum dan menjawab, "ya ... aku terima maaf kamu, Jen."

"EENJEEENN!!!! BURUAN MASUUUKK!!!!"

"Hahaha, sepertinya ada korban baru nih?" 

"Yah.. begitulah, merepotkan memang menjadi orang yang terejek. Hahaha ...."

THE END~ (?)

cerpen buatan sendiri yang pertama kalinya hahaha. Tapi udah diedit sedikit :)

Senin, 28 Mei 2012

Seven Letters for My Dear


Jari jemari itu bersatu saling berkaitan satu sama lain meninggalkan dinginnya malam ini. Wajahnya masih menyiratkan rasa cemas dan takut yang cukup mendalam. Dia masih menunggu lelaki itu─

─Raditaya Putri masih menunggu.

Tubuh ramping yang mulai mengurus itu masih setia menunggu lelaki yang membuatnya mengerti apa rasa sakit yang amat sangat didalam hatinya. Kaki jenjangnya masih setia berdiri ataupun berjalan menelusuri jalan kenangan yang masih saja membuatnya sakit...

Perih...

Kecewa...

Semua itu harus ia rasakan. Sendirian.

"Because i'm just the Ordinary girl, M'baby..."

.

.

.

7 Letters for you

Genre : Angst, a little bit of Romance, maybe?

Don't like? Don't read this, guys

Please en(d)joy this

.

.

.

Tik.

Tik.

"..."

"...Ra?"

"Hello, Raditaya? Are you still alive?" Ucap seorang wanita berambut hitam bergelombang itu mencoba membuyarkan lamunan wanita berwajah oriental yang ada didepannya. Sontak saja wanita oriental itu terbangun dari lamunannya. Ditia─nama wanita yang tadi berbicara─menghela nafas panjang menatap Raditaya yang seperti ini.

"Taya, lebih baik kau pulang, 'dia' tidak akan kembali lagi ..., kau tahu─"

"Aku yakin dia akan kembali padaku, Dit..., aku yakin sekali! Dia tidak pernah mengingkari janjinya satupun!" sela Raditaya yakin. Mata sendunya menatap cincin putih yang melingkar manis di jari manis sebelah kanannya.

"Apa yang bisa membuktikan semua itu, Raditaya my dear? Sudah jelas Reza tidak akan pernah kembali semenjak kecelakaan besar yang merenggut nyawanya!" Ucapan Ditia membuat Raditaya terkejut dan mengulang kembali kenangan pahit─bahkan sangat pahit baginya.
Ditia yang menyadari ucapannya itu segera meringis kecil merutuki kebodohannya. Dan karenanya, Raditaya kembali meneteskan kristal bening dari ujung matanya.

"Ra, bukan maksudku untuk..." Ditia menundukan wajahnya menyesali apa yang ia ucapkan tadi.

"It's okay, aku sadar kalau kau memang sama seperti yang lainnya, berharap kalau dia tidak pernah ada," ucap Raditaya cukup tajam di pendengaran Ditia. Ditia menatap sedih Raditaya yang beranjak dari tempat duduk cafenya itu dan keluar entah kemana. Ada rasa bersalah dan juga rasa kesal yang meliputi hatinya kala itu.

"Hhh... Sampai kapan kamu akan seperti itu, Raditaya?" gumam Ditia sembari memijit pelipisnya itu.

.

.

.

Langkah kecilnya sedang menelusuri jalan setapak yang bertaburan daun coklat dimana-mana. Matanya meneliti sukses setiap pohon-pohon yang menjulang tegap kokoh di pinggir jalan.

Lagi.

Kenangan indahnya bersama Reza yang memutar serentak di kepala membuat hatinya sakit lagi. Kali ini rasa sakit iitu lebih parah dari kemarin-kemarin entah mengapa. Tangan kurus yang berbalut kulit halus itu bergerak dan menekan dadanya yang terasa sakit, tepat di jantungnya. Ia rasakan sakit itu seperti ada yang menghujam jantungnya terus menerus.

"Kenapa...?" kristal bening itu turun kembali menganak alir di pipi tirusnya itu.

"Kenapa harus kamu yang pergi, Reza? Kenapa harus kamu?"

"...dan kenapa harus aku yang merasakan semua itu? Kau tahu aku sangat tidak suka─bahkan benci kalau kau pergi jauh disisiku? Kau berjanji tidak akan meninggalkan diriku jauh, sangat jauh hingga aku tak lagi bisa menggapaimu dengan tangan ini...."

"Jadi kenapa kau tidak menepati janjimu itu!" Raditaya berteriak sekencang-kencangnya mengabaikan tatapan heran dari orang-orang yang ada di belakangnya. Hati wanita itu sangat sakit jika ia harus mengingat semua itu.

"...tidak selamanya semua orang bisa menepati janjinya." Sebuah suara berat yang asing bagi Raditaya itu menginterupsinya. Cukup terkejut, memang.... Tapi Raditaya segera menoleh ke arahnya lalu mengerinyit kesal kepada lelaki itu. Baru saja ia akan memprotes, tiba-tiba saja lelaki berambut merah bata―yang ternyata di cat―dengan tatto di tangannya menyodorkan enam lembar surat yang terbungkus rapih oleh amplop yang tertutup rapat. Diliriknya ada tulisan khas yang bercoretkan namanya,  Raditaya.

"Dari siapa?" tanya Raditaya sembari mengeratkan syal ungu tua itu.

"Baca saja, nanti juga kau tahu..." ucapnya datar. Perlahan tangan Raditaya meraih ke-tujuh surat itu lalu menatap perlahan satu-persatu amplop itu dan membukanya. Raditaya menatap kecil lelaki itu.

"Bisakah kau tinggalkan aku, err─"

"Hari, Hari Saputra. Inspektur yang menangani kasus."

"Yeah, bisakah kau tinggalkan aku sementara, Hari?" pinta Raditaya. Hanya dengan mengangguk, Hari beranjak dari tempatnya menuju ke sebuha mobil sedan lalu melaju menuju jalanan itu. Raditaya menghela nafas, lalu memantapkan hati membuka satu isi surat yang ia yakini dari Reza.

-15 Januari 20xx

Dear Raditaya kekasihku....
Saat ini aku sudah berada di pesawat yang memberangkatkan ku menuju Tokyo. Aah..., sedih rasanya harus meninggalkan dirimu lagi hanya untuk memenuhi tuntutan ayah dalam hal pekerjaan. Apalagi melihat matamu yang memerah dan bengkak seperti habis menangis itu. Maafkan kekasihmu ini, Baby... Bukan keinginanku untuk pergi ke Tokyo dan harus meninggalkanmu lama selama seminggu. Aku jadi merasa bersalah. Maaf ya? Lain waktu aku akan mengajakmu untuk pergi bersama sekaligus akan mengenalkan dirimu kepada orang-orang kantor di Tokyo. Dan juga akan kukenalkan dirimu kepada wanita-wanita yang selalu genit padaku. Tapi tunggu dulu! Aku sama sekali tidak tertarik oleh mereka, karena bagiku..., hanya kamulah wanita yang selalu membuatku tertarik olehmu. Love you, my Baby....

Raditaya terkekeh kecil setelah membaca surat yang pertama. Lalu ia buka lagi surat yang lainnya.

-16 Januari 20xx

Dear Raditaya kekasihku....
Aku sudah sehari di Tokyo, dan kau tau? Disini sangat sejuk! Suatu saat aku berjanji akan mengajakmu kesini hanya berdua. Ya..,. hanya berdua saja tanpa ada gangguan dari siapapun. Hhh... aku sangat rindu padamu, Raditaya.... Entah mengapa baru kali ini aku merasa sangat merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu. Eh tunggu jangan marah dahulu, waktu dulu saat aku meninggalkanmu juga rindu kok! Tenang saja! Hahaha... wah, waktunya untuk bekerja lagi karena jam makan siang sudah selesai. Bye, my dear..., i'll always miss you, always....

-17 Januari 20xx

Dear Raditaya yang Terkasih dan yang tercantik...
Sepertinya sudah dua kali aku menyebutkan 'Raditaya yang tersayang', hm? Hahaha... tapi itu benar, hanya kamu yang kusayang dan kucintai. Tidak ada wanita atau bahkan pria yang kulirik. Tentu saja! Aku masih normal, Raditaya my dear..., hahaha... waktu sudah malam di Tokyo, lebih baik aku cepat tidur karena aku akan dimarahi Raditaya my dear jika telat tidur. Hahaha... i hope i can dreaming you again, My sweeties....

-18 Januari 20xx

Dear Raditaya yang ada di Konoha...
Tahukah kamu, Raditaya my dear? Malam ini adalah malam yang indah. Kenapa? Karena pertama kalinya aku bisa melihat bintang yang berjumlah ribuan dilangit ini. Lihatkah kau diatas langit? Kuharap iya dan Konoha sedang tidak hujan.... Andai saja kau ada disampingku saat ini, Raditaya my dear. Kupastikan malam ini adalah malam yang sangat-sangat indah. Because i can see my star in my eyes.

-19 Januari 20xx
Dear Raditaya yang cantik...
Dua hari lagi aku akan pulang dan menemuimu, Raditaya my dear. Dan itu membuatku bahagia bahkan sangat bahagia. Kau tidak lupakan janji mu akan menjemputku di Bandara, kan? Kuharap tidak.... Jika kau lupa, lihat saja nanti..., kau akan kuberi hukuman yang setimpal! Hahaha....

-20 Januari 20xx

Dear Raditaya yang selalu membuatku tersenyum....
Akhirnya besok pagi aku akan berangkat menuju Konoha dan menemuimu. Kau sudah berdandan kah untuk menemuiku di bandara? Oh tidak! Kau sudah cantik walaupun tanpa make up bagiku. Kuharap kau datang ke bandara dan menemuiku.... Kau sudah janji kan? Y'know, i'm really miss you. Tunggu aku....

"Tapi kau tidak menepati janjimu, Reza.... Kau malah pergi meninggalkan diriku jauh," ucap Raditaya terisak sembari meremas kertas-kertas itu. Kertas-kertas itu terjatuh dari pangkuan Raditaya karena ia berdiri dari duduknya. Sekuat tenaga Raditaya berlari menuju halte terdekat lalu menaiki bus yang mengarah ke bandara. Entah mengapa langkah kakinya seakan ringan membawanya menuju bandara itu. Sesampainya di bandara, langkah kakinya terus bergerak cepat hingga berhenti didepan pintu keluar. Wanita itu mengatur nafasnya yang tak beraturan lalu menyekat bulir keringat yang mengalir dikeningnya.

'Apa yang kulakukan di sini?' pikirnya.

Tuk!

Tiba-tiba saja ia lihat sebuah pesawat dari kertas itu mendarat tepat di depannya. Ia menelusuri siapa pemilik kertas itu, tapi sepertinya tidak ada yang mencarinya. Lalu Raditaya terdorong untuk meraih pesawat kertas itu lalu membuka lipatan kertas itu. Tanpa diduganya, sebuah coretan tinta yang sama dengan enam surat tadi menghiasi kertas itu dengan seuntaian kalimat.

Dear Raditaya....
Di surat yang ke tujuh ini, aku mau meminta maaf karena aku tidak bisa menepati dua janji. Yang pertama, aku tidak bisa menemuimu lagi..., dan yang kedua, aku harus membuatmu menangis kembali. Aku tidak menginginkan semua ini, tapi takdir sudah ditentukan oleh Tuhan. Dan jangan pula kamu menyalahkan Tuhan, karena yakinilah akan ada sesuatu yang indah di balik semua ini. Raditaya my dear..., terimakasih atas semua yang pernah kau berikan untukku. Kenangan-kenangan indah kita takkan pernah kulupa sampai kapanpun. Jaga dirilah baik-baik. Aku akan selalu ada dihatimu....

"I miss you, Raditaya my dear...." Sebuah suara berat terdengar lirih ditelinga Raditaya dan sebuah pelukan yang terasa hangat dari belakang Raditaya. Raditaya terbelalak kaget dan ingin sekali membalikan badannya. Tapi ia tidak bisa, gerakannya melawan keras hatinya.

"Reza..." lirih Raditaya yang hanya bisa diam terpaku kala itu. Perlahan-lahan, pelukan itu memudar bersamaan dengan kehangatan yang baru saja ia rasakan kembali. Air mata Raditaya akan jatuh untuk terakhir kalinya. Dan senyuman tulus yang merelakan semua ini pun kembali hadir di bibir kecil itu.

It's me? Yes... it's me :)

Seperti judulnya 'It's me? Yes... it's me :)' . Gue mau nulis curhat tentang kehidupan gue atau benar-benar cerita gue :D Nama gue sebutlah umi saja. Gue tinggal di kota yang cerah di pagi tapi di sorenya hujan . Sebut saja kota labil. Gue anak ke dua dari dua bersaudara. Kakak gue kuliah di universitasnya indonesia sedangkan gue baru mau masuk kuliah di daerah kota labil. Gue suka bikin cerita, atau bisa disebut fanfiction. Fandomnya yang pasti banyak berantemnya hahaha Mentang-mentang liat wajah gue yang cantik jangan ampe mupeng ya? hahaha well, gak bacot lagi. Mari dinikmati, master~
Ini sekolahan gue. Keliatan kan angka berapa? :D