The Reason Why I Loved The Rain
.
.
Inilah mengapa aku membenci hal yang berhubungan dengan
perasaan. Tangisan yang keluar akibat rasa kecewa, sedih, dan marah bercampur
aduk dalam dadaku. Rangkaian kenangan-kenangan yang mungkin memang bisa
membuatku tersenyum sendiri hanyalah kesemuan belaka. Karena aku membenci semua
itu.
Aku membenci perasaan yang dinamakan dengan ‘cinta’.
.
.
Butiran air langit yang jatuh beramai-ramai membuat suasana
kamar asramaku tidak sesepi sebelumnya. Kali ini aku masih menunggu jam
kuliahku yang dimulai siang hari tepat pukul dua belas. Suara jam weker yang
berdetik terdengar menghiasi kamar sepiku selain suara hujan di luar jendela
ini. Menunggu itu memang membosankan.
“Rev, ayo berangkat! Keburu telat nanti!” suara yang kukenal
berujar padaku. Aku membalikan badanku lalu mengambil tas biru tua di atas
kursi kayu yang berwarna coklat muda mengilap. Tidak lupa aku membawa sebuah
novel terjemahan milik temanku beberapa bulan yang lalu.
“Iya, Cha! Bawa payung gak?” jawabku sebelum menutup pintu
kamar asramaku. Icha menjawab
pertanyaanku dengan mengangkat payung lipat berwarna ungu miliknya. Maksud ia
mengangkatnya itu supaya aku tidak usah membawa payung lagi.
Aku tersenyum jenaka. “So
sweet banget ya kita sepayung berdua?”
“Pengen banget di-sweet-in gitu?” Icha berkata sedikit
dengan nada memaksa. Kita berdua tertawa kecil mengawali perjalanan menuju gedung
perkuliahan khusus untuk mahasiswa baru di IPB.
Selama di perjalanan, kita berdua termasuk orang yang paling
rusuh dengan payung yang hampir cukup untuk kita berdua. Terkadang kita
benar-benar tertawa lepas gara-gara candaan yang kita keluarkan meskipun pada
akhirnya kita tetap basah setelah sampai di gedung tersebut. Berhubung aku dan
Icha berbeda kelas, kita berdua berpisah di sebuah persimpangan jalan. Aku berjalan
lurus ke arah tangga karena kelasku berada di lantai dua tepat di dekat tangga
itu. Gedung yang termasuk gedung terbuka di bagian tengah ini membiarkan hawa
dinginnya hujan menggelitik kulitku. Segera saja aku masuk ke dalam kelas dan
memerhatikan isi kelasku.
Ternyata suasana kelas sudah ramai mengingat waktu sudah
menunjukkan pukul dua belas tepat di jam tangan hitam yang melingkari
pergelangan tangan kiriku. Tanpa berbasa-basi dahulu dengan teman-teman,
langkah kakiku bergerak perlahan mencari tempat duduk yang berada di pojokkan
dan di belakang dekat jendela. Itu spot tempat duduk terenak dan ternikmat yang
pernah kurasakan. Disaat bosan atau mengantuk dalam kelas, aku terbiasa
memandang keluar jendela dan memerhatikan apa atau siapa saja yang lewat di
jalanan.
Tap tap
Suara sepatu yang terdengar dari arah
pintu cukup membuatku penasaran siapakah yang masuk. Aku membalikan badanku dan
mendapati beberapa cowok yang kukenal namun tidak kuingat siapa namanya masuk. Ada
yang bertubuh pendek, bertubuh tinggi namun tidak kurus, dan yang satu lagi
berambut agak ikal dan bertubuh tinggi kurus. Setelah kutahu siapa yang masuk,
aku bersikap tidak peduli lagi lalu duduk dan memandangi keluar jendela yang
basah karena hujan.
Hujan...
Entah mengapa aku selalu menyukai hujan. Hujan adalah
anugrah terindah yang pernah Dia berikan pada hidupku yang begini-begini saja. Derasnya
butiran air langit membentuk sebuah suara yang begitu merdu di telingaku. Wanginya
ketika butiran air itu menghantam tanah dan jalanan membuatku cukup rileks dari
masalah-masalah kecilku. Intinya, aku menyukai hujan.
Kelas yang tadinya riuh dengan obrolan anak-anak kini
menghilang sudah suara itu di dalam kelas. Ternyata dosen sudah masuk kelas dan
itu artinya pembelajaran dimulai detik ini juga. Ah... jangan berhenti, hujan. Aku
bisa bosan kalau kau pergi disaat aku masih dalam kelas.