Jumat, 05 Oktober 2012

The Reason Why I Loved The Rain

The Reason Why I Loved The Rain
.
.
Inilah mengapa aku membenci hal yang berhubungan dengan perasaan. Tangisan yang keluar akibat rasa kecewa, sedih, dan marah bercampur aduk dalam dadaku. Rangkaian kenangan-kenangan yang mungkin memang bisa membuatku tersenyum sendiri hanyalah kesemuan belaka. Karena aku membenci semua itu.
Aku membenci perasaan yang dinamakan dengan ‘cinta’.
.
.
Butiran air langit yang jatuh beramai-ramai membuat suasana kamar asramaku tidak sesepi sebelumnya. Kali ini aku masih menunggu jam kuliahku yang dimulai siang hari tepat pukul dua belas. Suara jam weker yang berdetik terdengar menghiasi kamar sepiku selain suara hujan di luar jendela ini. Menunggu itu memang membosankan.

“Rev, ayo berangkat! Keburu telat nanti!” suara yang kukenal berujar padaku. Aku membalikan badanku lalu mengambil tas biru tua di atas kursi kayu yang berwarna coklat muda mengilap. Tidak lupa aku membawa sebuah novel terjemahan milik temanku beberapa bulan yang lalu.

“Iya, Cha! Bawa payung gak?” jawabku sebelum menutup pintu kamar asramaku.  Icha menjawab pertanyaanku dengan mengangkat payung lipat berwarna ungu miliknya. Maksud ia mengangkatnya itu supaya aku tidak usah membawa payung lagi.

Aku tersenyum jenaka. “So sweet banget ya kita sepayung berdua?”

“Pengen banget di-sweet-in gitu?” Icha berkata sedikit dengan nada memaksa. Kita berdua tertawa kecil mengawali perjalanan menuju gedung perkuliahan khusus untuk mahasiswa baru di IPB.

Selama di perjalanan, kita berdua termasuk orang yang paling rusuh dengan payung yang hampir cukup untuk kita berdua. Terkadang kita benar-benar tertawa lepas gara-gara candaan yang kita keluarkan meskipun pada akhirnya kita tetap basah setelah sampai di gedung tersebut. Berhubung aku dan Icha berbeda kelas, kita berdua berpisah di sebuah persimpangan jalan. Aku berjalan lurus ke arah tangga karena kelasku berada di lantai dua tepat di dekat tangga itu. Gedung yang termasuk gedung terbuka di bagian tengah ini membiarkan hawa dinginnya hujan menggelitik kulitku. Segera saja aku masuk ke dalam kelas dan memerhatikan isi kelasku.

Ternyata suasana kelas sudah ramai mengingat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tepat di jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Tanpa berbasa-basi dahulu dengan teman-teman, langkah kakiku bergerak perlahan mencari tempat duduk yang berada di pojokkan dan di belakang dekat jendela. Itu spot tempat duduk terenak dan ternikmat yang pernah kurasakan. Disaat bosan atau mengantuk dalam kelas, aku terbiasa memandang keluar jendela dan memerhatikan apa atau siapa saja yang lewat di jalanan.

Tap tap

Suara sepatu yang terdengar dari arah pintu cukup membuatku penasaran siapakah yang masuk. Aku membalikan badanku dan mendapati beberapa cowok yang kukenal namun tidak kuingat siapa namanya masuk. Ada yang bertubuh pendek, bertubuh tinggi namun tidak kurus, dan yang satu lagi berambut agak ikal dan bertubuh tinggi kurus. Setelah kutahu siapa yang masuk, aku bersikap tidak peduli lagi lalu duduk dan memandangi keluar jendela yang basah karena hujan.

Hujan...

Entah mengapa aku selalu menyukai hujan. Hujan adalah anugrah terindah yang pernah Dia berikan pada hidupku yang begini-begini saja. Derasnya butiran air langit membentuk sebuah suara yang begitu merdu di telingaku. Wanginya ketika butiran air itu menghantam tanah dan jalanan membuatku cukup rileks dari masalah-masalah kecilku. Intinya, aku menyukai hujan.

Kelas yang tadinya riuh dengan obrolan anak-anak kini menghilang sudah suara itu di dalam kelas. Ternyata dosen sudah masuk kelas dan itu artinya pembelajaran dimulai detik ini juga. Ah... jangan berhenti, hujan. Aku bisa bosan kalau kau pergi disaat aku masih dalam kelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar