Jumat, 15 Juni 2012

Shade (1)


13 Desember

Suasana sore kala itu semakin dingin. Titik-titik air yang jatuh ke permukaan bumi membuat siapapun berlari menghindar dari kebasahan. Tapi tidak dengan kedua bocah itu. Mereka berdua berlari saling mengejar satu sama lain dan tertawa riang walaupun air hujan membasahi baju mereka.

“Ayo, Vonia! Tangkap aku kalau kau bisa!” ucap bocah perempuan bertudung hitam itu berlari menghindari kejaran dirinya.

“Tunggu, Terrisia!” teriaknya lantang mencoba menghentikan langkah bocah perempuan yang berada di depannya. Tapi langkah kaki bocah perempuan itu lebih cepat darinya dan membuatnya tertinggal di tikungan.

“Terri─” Suara bocah itu tercekat dan langkahnya pun terhenti melihat apa yang terjadi di depannya. Leher bocah perempuan itu terantai oleh sang lelaki yang ia tak kenal. Seluruh tubuhnya terbujur kaku tak bisa bergerak, matanya masih terbelalak kaget tak mengerti. Mata hitam bocah perempuan itu melirik kearahnya. Ia cukup terkejut lalu berteriak kencang. 

“Cepat pergi dari sini!!!”

Bocah itu masih tidak bergeming dari tempatnya. Ia tidak mau melihat temannya dirantai seperti itu dan menatap Vonia dengan air mata yang mengalir dari mata hitam itu.

“Vonia!! Cepat pergi dari sini!!!” serunya sekali lagi. Aliran air mata itu semakin menderas sesaat lelaki berjubah hitam itu mendekati Vonia.

“Jangan! Jangan dekati dia! Cukup diriku yang menjadi tumbal, Tuan Albert!”

Lelaki berjubah hitam itu menghentikan langkahnya tepat di depan Vonia. Vonia bisa melihat matanya yang hitam tajam dan terdapat goresan hitam vertikal di matanya. Pundak Vonia dipegangnya keras hingga gadis itu mengerang kesakitan.

“Kau... harus datang tanggal yang sama di sepuluh tahun yang akan datang dan membawa Gail untuk menukarkan tumbalmu ini!” teriak lelaki itu sembari mengangkat sebilah pisau belati kecil dan menyayat mata kanan Vonia.

“ARRRGGHHH!!!!!!!!!” Teriakan Vonia membahana di jalanan itu. Darah segar berwarna merah itu mengalir deras dari mata kanannya. Vonia kesakitan, dirinya tak kuat menahan rasa sakit itu sehingga ia terjatuh bertumpu lututnya.

“TIDAAAAAKKK!!!!” Terresia berlari mendekati Vonia, tapi langkahnya tertahan karena rantai di lehernya semakin mencekik dan membuatnya tak bisa bernafas. Lelaki berjubah itu tersenyum sinis dan meninggalkan Vonia yang telah terbaring tak berdaya di jalan. Sedangkan Terresia diseretnya kembali menuju sebuah mobil hitam.

“Ter...ri...sia...”

.

.

.

10 tahun kemudian...

15 Oktober 

“...”

“...!”

BYUUR!!!

“Bangun, bodoh! Mau sampai kapan kau akan tidur seperti ini!” teriak seorang lelaki bertindik dan putung rokok yang terjepit di bibirnya. Di tangan kanannya terdapat sebuah ember yang masih meneteskan air dari sisi dalamnya. Orang itu segera membuka matanya dan mengusap wajahnya yang basah.

“Apa yang kau lakukan, Gail!?” protes orang itu menatapnya tak suka.

Lelaki bertindik─yang bernama Gail─itu hanya mendecih lalu membuang putung rokok itu ke bawah, dan menginjaknya hingga hancur. “Jika kau ingin lebih kuat, bangun yang pagi dan kerjakan semua pekerjaanmu, Vonia!”

“Tapi tidak seperti ini caranya!”

“TENTU SAJA!” bentak Gail keras di depan wajah Vonia. Tanpa memundurkan wajahnya, tangan lelaki itu mengambil sebuah pisau dan mengarahkannya ke leher Vonia. Vonia melirik pisau itu lalu menatap dalam mata lelaki yang lebih tua darinya itu.

“Bagaimana jika ada penyusup yang masuk dan menggoreskan pisau ini ke lehermu, heh? Jawab!” bentaknya sekali lagi. Vonia hanya bisa menutup matanya dan menunduk.

“Cih, bahkan hanya seperti ini saja kau tidak bisa menjawab!” ucap Gail memundurkan posisinya.  Dilemparkannya handuk berwarna putih ke wajah Vonia. “Lebih baik kau cepat mandi, kita akan berlatih kembali dalam sepuluh menit lagi.” Gail berjalan keluar meninggalkan Vonia dan membanting pintu keras.  Dengan handuk yang masih menutupi kepalanya, Vonia hanya menunduk menatap kosong ke bawah. Pikirannya kembali mengarah pada mimpi yang baru saja ia dapatkan. Mimpi yang selalu sama dengan hari-hari kemarin, semenjak kejadian itu berlalu.

“...Voila?” Seseorang membuka pintu kamar Voina dan menyembulkan kepalanya.

“Voina.” Ralat Voina.

“Hehehe... Iya, Voina. Maaf-maaf.”

“Mau apa kau kesini, Uno?” sinis Voina.

Lelaki itu menggeleng kecil lalu melipat kedua tangan di depan dadanya. “Kau ini, selalu saja dingin kepadaku!” ucapnya. Lalu Uno─lelaki itu mendekati Voina dan duduk di pinggir ranjang.

“Bangun telat lagi? Mimpi lagi?” tanya Uno. Voina hanya berdiam diri menjawab pertanyaan Uno. Uno hanya bisa menghela napas lalu menepuk pundak sahabatnya itu.

“Sudahlah, waktunya untuk berlatih kembali. Bukankah sebentar lagi hari itu akan datang?” ujar Uno. Voina menatap lelaki itu lalu tersenyum kecil.

“...ya.”

“Okay! Kalau begitu, senjata mana yang mau kau pilih, Voila~?” tanya Uno dengan sedikit bercanda.

ZETH!

“Sekali lagi kau panggil diriku seperti itu, maka pisau itu akan menancap di tempat yang seharusnya,” geram Voina menunjuk ke ‘bawah’. Uno hanya bisa bergetar ketakutan dan keluar sembari berlari terbirit-birit memegangi ‘bawah’nya.

.

.

.

Voina berdiri di sebuah lapangan bola yang rata dengan tanah kuning. Ya, dia akan berlatih kembali hingga waktunya tiba. Waktu dimana ia harus datang membawa Gail menuju Albert. Voina terlihat sedang merenung entah memikirkan apa.

“Jangan melamun saja, bodoh! Jika kau ingin membawa ku kepada Albert sialan itu, lawan aku!” teriak Gail yang kini tengah berjalan keluar dari pintu gudang dengan membawa dua buah katana. Voina hanya bisa mendecih lalu bersiap untuk melakukan penyerangan atau pertahanan.

“Ku beri kau kesempatan untuk melawan diriku,” ucapnya tegas. Voina mengangguk mengerti lalu berlari menyerang Gail.

“Heeeaaaa!” Teriakan Voina membahana seketika ia melepaskan sebuah pukulan ke wajah Gail. Tapi dengan sedikit perpindahan yang dilakukan Gail, pukulan itu meleset dari wajahnya.

Stupid woman...” bisik Gail sembari memukul punggung Voina hingga membuat Voina terhempas ke belakang.

Gail memutar badannya menghadap Voina yang sedang berusaha berdiri. “Hanya seperti ini kemampuanmu? Sepuluh tahun sudah hanya seperti ini kekuatanmu!? Wanita bodoh! Tidak punya otak! Dimana otakmu!?”

SHUT UP, DAMMIT!!” Teriak Voina geram. Rasa sakit di punggungnya kini menjalar ke leher belakangnya. Ia merasa jika tulang belakangnya retak parah.

“Cih... Hanya bisa berteriak? Benar-benar wanita bodoh... Kau tidak pernah pantas untuk menjadi pahlawan!” ejek Gail.

Shut up! I said SHUT UP!!! ARRRGGGHHH!!!!” Kesadaran Voina menghilang sesaat rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh. Seakan pukulan tadi mengandung racun yang dapat merusak tubuhnya dalam hitungan beberapa detik. Kini, ia tidak bisa bergerak.

Uno terlihat berlari tergopoh-gopoh dan menatap nanar Voina yang sudah tak berdaya di lapangan itu. Lelaki itu hanya bisa menghela napas karena ini sudah terbiasa dilihatnya. Melihat Voina jatuh pingsan karena dipukul Gail.

“Apa... Itu tidak terlalu berlebihan, Gail?” lirih Uno mendekati  Voina.

“Tidak, jika dia memang ingin menjadi kuat,” jawab Gail datar. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju gudang kembali. Saat Uno akan membawa Voina ke gudang, Gail berkata sesuatu.

“Biarkan dirinya disana, kau obati disana saja, jangan bawa masuk ke gudang ini.”

“Ta-tapi─!”

“Turuti saja perintahku, bodoh!” bentak Gail. Uno tidak bisa melawan gurunya itu. karena ia tahu apa yang diinginkan gurunya itu. ‘Lakukan perintahku, atau kau akan kupenggal.’

BRAGK!!

Pintu gudang itu dibanting Gail. Sementara itu Uno sedang mengobati luka memar di punggung Voina yang masih belum sadar. Sudah menjadi kebiasaan Uno untuk mengobati Voina, karena ia pernah mengobati luka parah yang diberikan Gail untuk wanita itu.

“Sial! Semakin hari lukamu semakin berat! Tulang belakangmu sudah retak, dan ini harus di operasi,” gumam Uno. Ia mencoba mencari cara untuk menyembuhkan luka itu.

“...sudah..lah, Uno...” Uno mendengar suara berat Voina. Voina sadar, pikirnya.

“Jangan banyak berbicara dulu!”

“Sudah...lah, ini... Bukan yang─ugh! Hhh... Pertama Ka...linya, hah...?” ucap Voina susah payah. Lagi-lagi Uno menatap nanar sang wanita yang kini sedang berusaha untuk berbaring terlentang. Lelaki itu bisa melihat pandangan Voina yang menatap lurus ke arah cakrawala langit biru layaknya bentangan laut itu.

“Bagaimana pun juga...” Uno ikut berbaring di samping Voina. “Kau tetaplah manusia, terlebih kau adalah seorang... Wanita.”

Voina tersenyum tipis menyipitkan kedua matanya yang tersinari matahari lalu berkata lirih, “penderitaanku sampai saat... ini. Tidak sebanding dengan... penderitaan ‘dia’.”

“Tapi apa kau yakin dengan semua ini, Voina?” tanya lirih Uno.

Tidak ada balasan dari Voina. Hal itu cukup membuat Uno khawatir lalu segera bangun dan segera memeriksa denyut nadi Voina.

‘Syukurlah, masih normal.’ Uno menghela napas lega lalu menarik kembali tangannya. Digenggamnya erat tangan Voina yang sedikit mendingin dan mengeluarkan darah akibat gesekan dengan tanah yang kasar itu.

“Maaf, Voina. Aku tidak bisa membantumu lebih. Meskipun ini memang terlalu kasar bagi wanita sepertimu, aku yakin Gail mempunyai maksud tersendiri memperlakukan dirimu seperti ini. Waktumu hanya tinggal dua bulan lagi, Viona...” bisik Uno sebelum meninggalkan Voina yang masih terbaring lemah di tengah lapangan.
Di dalam gudang, Gail menatap kepergian Uno yang sedang menuju ke dalam rumahnya melalui jendela. Sebelum Uno memasuki rumahnya, Gail beranjak dari tempat berdirinya memasuki kamar.

.

.

.

.

To Be Continued.

Lume A întunericului (3)


”LARIII!!!!” teriak Joseph menarik tangan Lilian dan berlari bersama yang lainnya. Aksi kejar-mengejar pun terjadi dilorong-lorong sepi tersebut. Derap langkah kaki mereka menuruni tangga yang cukup licin apabila tidak berhati-hati. Tepat didepan anak tangga terakhir ada pintu yang terbuka dan mengarah ke ruang tamu, tapi pintu itu terus bergerak dan akan tertutup. Dengan cepat, Mereka pun masuk kedalam sana.

BRAK!!!

”Hosh... Hosh.... tu-tunggu Shena!” teriak Kyriana kencang saat melihat Shena terjatuh. Tiba-tiba saja Fredd mendapati perasaannya yang tak enak.

”Shena!!! Cepat!!!” teriak Jone dari ambang pintu.

”Maaf teman-teman, aku tidak bisa... pergilah...” lirih Shena menunduk dalam.

”SHEEENNAAAA!!!”

Blam!

Pintu tertutup sempurna dan terkunci rapat tanpa adanya kunci yang bisa membuka pintu itu. Fredd menggedor-gedor keras sambil berusaha mendobrak pintu besi tua tersebut. Joseph dan Luvi berusaha menghentikan Fredd, sedangkan yang lainnya terdiam suram.

”Shenaaa!!!”

.

Title: Lume A întunericului

Warn: Typo (s) , alur aneh dan gaje

Disclaim: OWNED Shaneeta

Capther : 3

Don’t like Don’t read

En(d)joy please^^

.

.

"..."

"Apa yang harus kita lakukan lagi?" tanya Jone. Tak ada satupun yang menjawabnya, keheningan masih menyelimuti diri mereka masing-masing. Tiba-tiba saja Fredd berdiri lalu mengobrak-abrik ruangan kedap suara tersebut. Mereka semua menatap bingung kepada Fredd.

“Apa yang akan kau lakukan, Fredd?” tanya Joseph.

“...aku harus mencari jalan keluar untuk menemukan Shena!” jawabnya tanpa mengalihkan gerakkannya dari mendorong sebuah tong-tong kayu yang cukup berat dan besar itu. Kyriana dan Lilian saling bertatap bingung. Luvi yang sedari tadi menunduk, kini berdiri dan membantu Fredd mendorong tong tersebut.

“Luvi?”

“Bagaimanapun juga Shena adalah teman kita, saudara kita, dan keluarga kita. Kita tidak akan keluar tanpa membawa Shena pulang,” jawab Luvi tenang. Joseph mengangguk mengerti dan ikut mendorong tong kayu tersebut. Fredd menunduk tersenyum tipis lalu mendorong kembali tong tersebut.

“...terima kasih.”

“Aku akan mencari sesuatu barang yang bisa kita gunakan untuk melawan monster itu, sepertinya tempat ini adalah sebuah gudang,” ujar Lilian yang mulai mencari barang. Kyriana bingung harus membantu apa. Sebab tidak mungkin jika ia membantu Lilian mengingat ruangan ini cukup kecil sehingga mudah mendapatkan barang yang seperti itu, dan apabila dia membantu mendorong tong─percuma saja, mendorong pintu kayu besar saja ia tidak bisa bagaimana tong itu?

Walaupun tidak bisa apa-apa, Kyriana bukanlah gadis yang hanya diam menonton yang lainnya. Dia gadis hyper-active yang tidak bisa diam walaupun hanya sebentar─pengecualian disaat waktu yang tak tepat. Langkah kakinya bergerak menyelusuri ruangan berukuran lebih besar dari ruangan awal dimana ia dan kawan-kawannya datang. Hanya saja, ruangan ini dipenuhi tong-tong berukuran besar yang entah apa isinya dan meja-meja dengan banyak laci. Suasana ruangan itu menjadi berdebu karena gerakan tong-tong yang didorong oleh ketiga pria itu. Kyriana menangkap sebuah buku di atas meja dekat penerangan lampu minyak yang sudah redup itu. buku tebal dengan aksen tua dan debu tebal membingkai buku itu. Kyriana cukup tertarik dengan buku itu. Buku yang seakan-akan pernah ia lihat sebelumnya. Tapi ia tak tahu dimana tepatnya berada.

Tangannya terulur dan membersihkan permukaan buku tersebut. Sesekali ia menepuk buku tersebut dan membiarkan debu-debu tebal itu berterbangan. Lalu ia membuka buku itu dan menatap isi buku tersebut. Kosong... Hanya itu yang ia dapatkan.

“Awas, Kyna!!!”

Kyriana menoleh pelan ke arah Jone yang sedang berlari menuju arahnya, lalu ia perlahan mendongak ke atas dimana sebuah lampu kaca gantung tengah bersiap menimpa dirinya.

“Kyaaaaa!!”


BRAKK!!

Kyna berhasil di dorong oleh Jone menghindari lampu aca tersebut. Tapi lampu kaca itu pecah dan mengakibatkan

“Kyna!!” teriak Luvi melihat sang adik hampir saja tertimpa lampu kaca itu. Naas, pecahan kaca itu tersebar dan mengarah ke telapak tangan kanan Kyriana yang melindunginya itu. darah segar merah pun mengalir menetes dan meresap ke buku tersebut.

“Astaga! Kau berdarah!” ucap Lilian yang kini mendekatinya. Kyriana menatap aliran darah yang menetes ke dalam kertas kosong buku tersebut. Darah itu seakan menulis dengan sendirinya di atas kertas kuning yang kosong itu.


‘Oricine intră în lume a întunericului


Kyriana mengerutkan keningnya tak mengerti dengan bahasa yang dituliskan darahnya tersebut. Tulisannya seperti terpotong.


‘Mungkin darahnya kurang...’ pikir Kyriana. Lalu ia mengeratkan telapak tangannya dan membiarkan darahnya mengalir deras.


“Apa yang kau lakukan, bodoh!” kata Luvi meraih tangan kanan Kyriana lalu membalut luka Kyriana dengan kain bajunya yang baru saja ia sobek.


el va fi un companion de întuneric


“Apa itu?” tanya Fredd sembari membaca tulisan tadi. Joseph dan Lilian ikut membaca tulisan itu.


“‘Siapapun yang masuk ke dalam dunia kegelapan... Dia akan menjadi pendamping kegelapan’.” Joseph mengartikan kalimat tersebut.

“Bahasa apa? Dan... Dimana kau belajar bahasa itu?”

“Roma, dulu aku pernah belajar bahasa Roma saat di Senior High School.”
Lalu tulisan itu menghilang dan berubah menjadi sebuah kalimat.

“Artikan kembali!”


“Dacă nu doriţi tot ce se intampla, Ia focul sacru de glorie şi apoi l-arde”

“Itu berarti, ‘Jika kau tidak ingin semua itu terjadi, ambil api suci kemuliaan dan membakarnya’.” Lanjut Joseph.

“Ada lagi!” seru Kyriana.


Am să te duc la altar...


“Saya akan membawa kau ke... Altar?” Joseph menatap mereka semua.


“Apa... Maksudnya?”


BRAK!!!


Sesosok makhluk berjubah hitam mendobrak pintu yang tadi tertutup rapat. Aura kegelapan yang sangat hitam itu menyelimuti ruangan itu dan sekitarnya. Mata bulat yang bercahaya merah terang itu menatap Kyriana.


Ar trebui să fie al meuí!*” Makhluk itu mengayunkan rantai besi di tangannya dan mencekik Kyriana.


“Agh!” Kyriana mengerang kesakitan saat makhluk itu menarik rantai besi yang meliliti lehernya.


“Kyna!!” Mereka semua berusaha menarik Kyriana dan memutuskan rantai besi tersebut dengan linggis yang ditemukan Lilian sebelumnya.


ARGHH!!! Vai de voi!” Lagi-lagi makhluk itu berteriak dan membuat menara ini bergetar seperti gempa hebat.


“Kita keluar!” teriak Jone. Mereka semuapun berlari keluar dan sesekali menghindar dari serangan petir yang dikeluarkan sang makhluk kegelapan.


Langkah kaki mereka terus bergerak cepat entah kemana. Mereka terus berlari menaiki tangga yang mereka temukan tak jauh dari pandangan mata. Makhluk itu masih mengejar dan menyambarkan petir dari rantai besi itu. Mencoba menangkap Kyriana yang berada di pangkuan Luvi. Tepat mereka masuk ke dalam sebuah ruangan besar, Jone dan Joseph mengunci ruangan tersebut.


“Kau tidak apa?” tanya Luvi khawatir. Kyriana menggeleng kecil lalu menatap ruangan yang sangat besar dan barisan kaca jendela yang menjulang tinggi. Barisan kaca tersebut terukir banyak gambar yang menggambarkan banyak pejuang Roma yang gugur di medan perang melawan sesosok makhluk berjubah hitam. Makhluk yang sama dengan makhluk yang tadi mengejar mereka.


“Err─Kyna? Bukankah ini kau?” tanya Lilian sembari menunjuk ke arah baris jendela paling ujung. Dimana sesosok wanita yang mirip dengan Kyriana sedang mengarahkan tangannya ke makhluk jubah hitam itu, dan terbakar...


“Mungkin itu yang dinamakan api suci kemuliaan!” seru Jone.


“Tapi dimana kita mendapatkan semua itu?” tanya Fredd.


“Dan lagi... Dimana kita menemukan Shena...?” Fredd menunduk saat menanyakan sang kekasih dengan lirih. Joseph menepuk pundak Fredd lalu mengangguk kecil pertanda mengerti akan sesuatu hal.


“Pasti kita akan menemukan dirinya, Fredd.”


Luvi melihat Kyriana sedang berjalan ke sebuah tempat yang sedikit tinggi darinya. Dan tempat tersebut lebih mirip altar dengan sebuah batu persegi panjang.


“Kyna?” Panggilan Luvi terabaikan oleh Kyriana. Gadis itu masih saja berjalan mendekati batu persegi panjang itu. Sang kakak bisa melihat mata Kyriana membulat seketika.


“SHENAAA!!!”


Teriakannya mampu membuat pengalihan pikiran kepada Kyriana. Fredd yang menyadari nama tersebut langsung berlari mendekati Kyriana dan terkejut melihat siapa yang sedang tertidur di batu panjang itu.


“Shena!! Astaga, Shena!” Fredd langsung memeluk tubuh kecil itu erat. Sangat erat hingga membuat sang empunya terbangun.


“Ngh... Ky... Na? Fredd...?” lirih Shena. Fredd dan Kyriana mengangguk dan tersenyum senang.


“Iya, Shena! Kita berhasil menyelamatkan mu!” ucap Fredd bahagia.


“A-awas...!” Shena berteriak seraya menunjuk ke arah pintu yang kini terbuka oleh makhluk jubah itu.


“Kyaaa!” Kyriana berteriak ketakutan dan merapat ke arah Fredd dan Shena. Luvi segera berlari mendekati Kyriana. Tapi...


ZINGH!!!


Sebuah pisau belati mengarahi Luvi dan tertancap di pundak kiri Luvi. Luvi mengerang kesakitan dan terjatuh.


“Luvi!!” Kyriana menangis melihat Luvi sedang terduduk menahan rasa sakit di pundaknya. Darah merah itu masih mengalir cukup deras melihat cukup dalamnya pisau belati itu menusuk pundak Luvi.


“Lilian! Kita alihkan─AGH!!” Pisau belati itu menusuk punggung Joseph dan membuat lelaki itu terjatuh tak berdaya.


“Jo-Joseph!”


“AWAS!”


ZLEB!


Tiga pisau belati menembus Lilian, Fredd, dan Shena. Membuat mereka bertiga jatuh dengan darah yang mengalir di lantai keramik yang retak. Membuat skema seperti bulatan dan bintang di tengah-tengahnya.


“A-apa yang kau lakukan!!” teriak Kyriana tanpa aliran air matanya berhenti.
Makhluk itu mendekati Kyriana. “Seperti yang kuinginkan... Dan pengubah takdir.”


“Takdir? Takdir apa!?”


Rantai besi itu terayun dan melilit kembali di leher Kyriana.


“Takdir yang sudah kau lihat! Takdir dimana kau akan membunuhku! Tapi... Semua itu tidak lama lagi akan pecah, dan mengubah takdir yang baru! Yaitu takdir untuk membunuh kau! Hahaha!” Tawa membahana makhluk itu terdengar keras. Kyriana masih berusaha membuka rantai besi yang membuatnya susah  bernapas. Tapi nihil, kekuatannya sama sekali tidak bisa membuka ikatan itu.


‘Ibu... Luvi... Shena... Fredd... Jone... Lilian... Joseph... Maafkan aku, aku tidak bisa. Maaf.’


Pandangan Kyriana mulai mengabur. Nafasnya mulai terengah-engah menandakan oksigen dalam paru-parunya akan habis. Tenaganya mulai terkuras habis.


‘Aku... Akan, mati...?’


Tiba-tiba saja kenangan dahulu terlintas di pikiran Kyriana.

-FLASHBACK-


Sebuah tubuh terjatuh dari atap sekolah. tubuh itu adalah tubuh Himewari. Sosok wajah yang oriental itu menghadap kedalam dan memperlihatkan Kyriana dan Shena yang menghadap ke jendela tersebut. Rasa terkejut yang bukan main membuat Kyriana terdiam tak percaya dengan yang ia lihat.

’Kuberikan kematianku untuk membalas semuanya.’

-Flashback end-


TRANG!

Entah kenapa leher Kyriana tak terasa sakit lagi dan oksigen itu mulai bisa ia hirup. Kyriana terjatuh lemas ke bawah walaupun ia masih bisa melihat apa yang terjadi. Tanpa ada pengaburan pandangan matanya lagi.

“Apa!? Siapa kamu!?” Sang Makhluk jubah hitam itu terlihat geram pada sesosok yang Kyriana kenal.

“Hime... Wari...? Tapi, bagaimana... Bisa?” gumam Kyriana.

“Maaf, Kyna! Aku terlambat! Aku harus menyogok mereka dulu supaya aku bisa keluar dari tempat mereka. Hehehe...” ucap Himewari riang. Kyriana menatap Himewari yang cukup berbeda dengan pakaian serba hitam dan sebuah katana di tangan kanannya.

“Tempat? Mereka?” tanya Kyriana sembari berusaha untuk bangun dan berjalan perlahan mendekati Himewari.

“Aa... Kau tidak usah mendekatiku, biar aku yang melawan makhluk jelek ini! Lebih baik kau segera mencari api suci kemuliaan,” ujar Himewari bersiap siaga melihat pergerakan makhluk berjubah hitam. Kyriana hanya mengangguk lalu berlari mencari sesuatu yang seperti api, kesucian, dan kemuliaan.

“Tidak akan kubiarkan!!” teriak makhluk itu mengejar Kyriana, tapi langkahnya tertahan oleh Himewari.

“Kali ini, aku yang akan menjaga Kyriana. Dan kali ini juga─whoaaaa! Tunggu sampai ku selesaikan kalimatku, bodoh!” protes Himewari kesal karena makhluk itu menyerangnya pertama. Dan kini, ia bertarung melawan makhluk tersebut.

Kyriana masih mencari api suci kemuliaan di ruangan tersebut. Dan ia pun masih harus menghindar dari serangan tiba-tiba makhluk itu. ia terus mencari, tapi tetap tidak menemukannya.

“Awas, Kyna!” teriak Himewari. Tapi terlambat karena petir itu mengarah ke arah Kyriana dan membuat gadis itu terlempar hingga ke batu persegi panjang.

Kyriana mengerang kesakitan. Tenaganya mulai terkuras kembali dan membuatnya susah untuk berjalan. Ia masih melihat Himewari susah payah melawan makhluk yang sangat kuat itu. Pandangannya mengarah pada lantai dimana Himewari dan makhluk itu tepat berada diatasnya. Darah yang membuat skema lingkaran dengan bintang di dalamnya.

“Pengorbanan...” gumam Kyriana mendapatkan sesuatu. Lalu ia mendongak dan mendapati sinar matahari masuk melewati celah-celah jendela.

“Siang? Ah! Aku mengerti!” Kyriana beranjak dari batu persegi itu dan mencari sebuah batu untuk dilemparkan ke jendela yang bercelah itu.


CTAR!

Lagi-lagi petir menyambar ke arahnya dan membuatnya terlempar jauh. Sebuah ide melintas di benaknya.

“Hey, bodoh! Serang aku kalau kau bisa!” teriak kyriana tanpa di duga.

“A-apa yang kau lakukan!?” tanya Himewari terkejut.

“Baiklah kalau kau mau itu!” jawab sang makhluk mengarahkan rantai itu ke Kyriana. Kyriana tersenyum kecil lalu berteriak ke arah Himewari.

“Hime! Arahkan serangan miliknya ke jendela itu!”
Himewari mendengar semua itu lalu melakukan perintah Kyriana. Gadis itu berlari keluar dari lingkaran darah dan mengarahkan katananya. Waktu yang tepat sehingga serangan itu mengenai katana Himewari dan terpantul ke jendela yang berada di atas Kyriana.


PRANG!

Kaca jendela itu pecah dan membiarkan cahaya matahari menerobos masuk ke dalam ruangan. Cahaya itu mengenai darah yang telah membuat skema tadi. Dan membuat darah itu seperti minyak.

“APA!?”

Darah itu terbakar dan mengurung makhluk jubah hitam itu di dalamnya.

“Bagaimana bisa?” tanya Himewari.

“Api suci kemuliaan. Hanya ada satu api yang suci dan mulia, yaitu matahari,” jawab Kyriana menatap makhluk itu yang mulai terbakar. Tangannya terulur ke depan.

“Hanya Kemuliaan-Nya yang mampu menolong kami semua.”

“GRAAAOOOWWWW!!!!” Erangan makhluk itu mengakhiri hidupnya. Tidak ada lagi sosok yang menyeramkan yang akan membawa mereka semua ke dalam Lume An întunericului. Tidak lagi...


DUAAAR!!!

Sebuah ledakan terdengar keras dari sisi kiri mereka. Dan suara ledakan itu kembali berbunyi di sisi yang lainnya. Membuat menara ini bergetar dan akan hancur. Perlahan demi perlahan menara ini terkikis dan jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam.

“Kyaaa!” lantai Kyriana terkikis dan membuat dirinya akan jatuh ke dalam jurang.

“Kyna!!” teriak Himewari menangkap tangan Kyriana dan berpegangan pada katana yang ia tancapkan di lantai.

“Bertahanlah!” Himewari menarik Kyriana dengan susah payah. Tapi retakan lantai mulai meyebar ke arah Himewari dan akhirnya terkikis.

“AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!” Kedua tubuh itu terjatuh ke dalam jurang.

.

.

.

”Kyna!”

“...hah?” Kyriana memutar kepalanya 90º kearah kanan. Ditatapnya gadis berambut hitam legam pendek sebahu yang ia ikat cepol keatas dengan bingung.

”Kau sudah mengerjakan PR Matematika, hm?” tanya gadis itu tepat berjalan disamping Kyriana. Kyriana mengerutkan keningnya bingung. Ditatapnya keadaan sekitar itu. Itu lorong sekolahnya.

“Hello? Kyna!” teriak gadis itu dan membuat Kyriana menatapnya.

“Kau tidak apa? Apa kau sakit?”

“A-ah... Tidak, Hime. Aku hanya... Bingung saja,” jawab Kyriana ragu. Tiba-tiba saja gadis berambut hitam itu memeluk tubuh Kyriana.

“Akhirnya kau memanggil namaku, Kyna! Sejak dulu, aku selalu merasa bersalah dan membuatmu murung,” ucap Himewari tertunduk.

“...maaf, Hime...” ucap Kyriana tersenyum dan mengelus kepala Himewari yang lebih pendek darinya.

“Kyna? Hime? Sedang apa kalian disini?” tanya Joseph dan Lilian. Kyriana menoleh ke arah mereka dan tersenyum bahagia mendapati kedua gurunya yang masih hidup.

“Tidak ada apa-apa, Mr. Joseph, Mrs. Lilian! Hanya saja... Aku ingin bertemu dengan kakakku, Jone, Shena, Fredd, dan kalia berdua!” jawab Kyriana girang lalu berlari masuk ke dalam kelas. Tapi langkahnya berhenti dan menatap Himewari yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.

“Cepat, Hime! Nanti kau akan dihukum Mr. Joseph!”

“I-iya, Kyna!”

“Ah, iya! Shena! Apa kabarmu? Kuharap baik-baik saja kan? Hahaha.”

“Kyna? Kau ini kenapa?”

“Entahlah... Tapi yang pasti hari ini aku bahagia sekali! Hahaha.”

Lilian dan Joseph menatap bingung satu sama lain. Tapi toh akhirnya mereka berdua bisa akur kembali, jadi mereka bisa menghela nafas lega. Mereka berduapun berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Dan mengajar seperti biasanya. Seakan dunia itu hanya Kyriana yang tahu, dan hanya sebuah mimpi yang mengubah segalanya.

.

.

.

The End.