13 Desember
Suasana sore kala itu
semakin dingin. Titik-titik air yang jatuh ke permukaan bumi membuat siapapun
berlari menghindar dari kebasahan. Tapi tidak dengan kedua bocah itu. Mereka
berdua berlari saling mengejar satu sama lain dan tertawa riang walaupun air hujan
membasahi baju mereka.
“Ayo, Vonia! Tangkap
aku kalau kau bisa!” ucap bocah perempuan bertudung hitam itu berlari
menghindari kejaran dirinya.
“Tunggu, Terrisia!”
teriaknya lantang mencoba menghentikan langkah bocah perempuan yang berada di
depannya. Tapi langkah kaki bocah perempuan itu lebih cepat darinya dan
membuatnya tertinggal di tikungan.
“Terri─” Suara bocah itu tercekat dan
langkahnya pun terhenti melihat apa yang terjadi di depannya. Leher bocah
perempuan itu terantai oleh sang lelaki yang ia tak kenal. Seluruh tubuhnya
terbujur kaku tak bisa bergerak, matanya masih terbelalak kaget tak mengerti. Mata hitam bocah
perempuan itu melirik kearahnya. Ia cukup terkejut lalu berteriak kencang.
“Cepat pergi dari sini!!!”
Bocah itu masih tidak
bergeming dari tempatnya. Ia tidak mau melihat temannya dirantai seperti itu
dan menatap Vonia dengan air mata yang mengalir dari mata hitam itu.
“Vonia!! Cepat pergi
dari sini!!!” serunya sekali lagi. Aliran air mata itu semakin menderas sesaat
lelaki berjubah hitam itu mendekati Vonia.
“Jangan! Jangan dekati
dia! Cukup diriku yang menjadi tumbal, Tuan Albert!”
Lelaki berjubah hitam
itu menghentikan langkahnya tepat di depan Vonia. Vonia bisa melihat matanya
yang hitam tajam dan terdapat goresan hitam vertikal di matanya. Pundak Vonia
dipegangnya keras hingga gadis itu mengerang kesakitan.
“Kau... harus datang
tanggal yang sama di sepuluh tahun yang akan datang dan membawa Gail untuk
menukarkan tumbalmu ini!” teriak lelaki itu sembari mengangkat sebilah pisau
belati kecil dan menyayat mata kanan Vonia.
“ARRRGGHHH!!!!!!!!!”
Teriakan Vonia membahana di jalanan itu. Darah segar berwarna merah itu
mengalir deras dari mata kanannya. Vonia kesakitan, dirinya tak kuat menahan
rasa sakit itu sehingga ia terjatuh bertumpu lututnya.
“TIDAAAAAKKK!!!!”
Terresia berlari mendekati Vonia, tapi langkahnya tertahan karena rantai di
lehernya semakin mencekik dan membuatnya tak bisa bernafas. Lelaki berjubah itu
tersenyum sinis dan meninggalkan Vonia yang telah terbaring tak berdaya di
jalan. Sedangkan Terresia diseretnya kembali menuju sebuah mobil hitam.
“Ter...ri...sia...”
.
.
.
10 tahun kemudian...
15 Oktober
“...”
“...!”
BYUUR!!!
“Bangun, bodoh! Mau sampai kapan kau akan tidur seperti
ini!” teriak seorang lelaki bertindik dan putung rokok yang terjepit di
bibirnya. Di tangan kanannya terdapat sebuah ember yang masih meneteskan air
dari sisi dalamnya. Orang itu segera membuka matanya dan mengusap wajahnya yang
basah.
“Apa yang kau lakukan, Gail!?” protes orang itu menatapnya
tak suka.
Lelaki bertindik─yang bernama Gail─itu
hanya mendecih lalu membuang putung rokok itu ke bawah, dan menginjaknya hingga
hancur. “Jika kau ingin lebih kuat, bangun yang pagi dan kerjakan semua
pekerjaanmu, Vonia!”
“Tapi tidak seperti ini caranya!”
“TENTU SAJA!” bentak Gail keras di depan wajah Vonia. Tanpa
memundurkan wajahnya, tangan lelaki itu mengambil sebuah pisau dan
mengarahkannya ke leher Vonia. Vonia melirik pisau itu lalu menatap dalam mata
lelaki yang lebih tua darinya itu.
“Bagaimana jika ada penyusup yang masuk dan menggoreskan
pisau ini ke lehermu, heh? Jawab!” bentaknya sekali lagi. Vonia hanya bisa
menutup matanya dan menunduk.
“Cih, bahkan hanya seperti ini saja kau tidak bisa
menjawab!” ucap Gail memundurkan posisinya. Dilemparkannya handuk berwarna
putih ke wajah Vonia. “Lebih baik kau cepat mandi, kita akan berlatih kembali
dalam sepuluh menit lagi.” Gail berjalan keluar meninggalkan Vonia dan
membanting pintu keras. Dengan handuk yang masih menutupi kepalanya, Vonia
hanya menunduk menatap kosong ke bawah. Pikirannya kembali mengarah pada mimpi
yang baru saja ia dapatkan. Mimpi yang selalu sama dengan hari-hari kemarin,
semenjak kejadian itu berlalu.
“...Voila?” Seseorang membuka pintu kamar Voina dan
menyembulkan kepalanya.
“Voina.” Ralat Voina.
“Hehehe... Iya, Voina. Maaf-maaf.”
“Mau apa kau kesini, Uno?” sinis Voina.
Lelaki itu menggeleng kecil lalu melipat kedua tangan di
depan dadanya. “Kau ini, selalu saja dingin kepadaku!” ucapnya. Lalu Uno─lelaki
itu mendekati Voina dan duduk di pinggir ranjang.
“Bangun telat lagi? Mimpi lagi?” tanya Uno. Voina hanya
berdiam diri menjawab pertanyaan Uno. Uno hanya bisa menghela napas lalu
menepuk pundak sahabatnya itu.
“Sudahlah, waktunya untuk berlatih kembali. Bukankah
sebentar lagi hari itu akan datang?” ujar Uno. Voina menatap lelaki itu lalu
tersenyum kecil.
“...ya.”
“Okay! Kalau begitu, senjata mana yang mau kau pilih,
Voila~?” tanya Uno dengan sedikit bercanda.
ZETH!
“Sekali lagi kau panggil diriku seperti itu, maka pisau itu
akan menancap di tempat yang seharusnya,” geram Voina menunjuk ke ‘bawah’. Uno
hanya bisa bergetar ketakutan dan keluar sembari berlari terbirit-birit
memegangi ‘bawah’nya.
.
.
.
Voina berdiri di sebuah lapangan bola yang rata dengan tanah
kuning. Ya, dia akan berlatih kembali hingga waktunya tiba. Waktu dimana ia
harus datang membawa Gail menuju Albert. Voina terlihat sedang merenung entah
memikirkan apa.
“Jangan melamun saja, bodoh! Jika kau ingin membawa ku
kepada Albert sialan itu, lawan aku!” teriak Gail yang kini tengah berjalan
keluar dari pintu gudang dengan membawa dua buah katana. Voina hanya bisa
mendecih lalu bersiap untuk melakukan penyerangan atau pertahanan.
“Ku beri kau kesempatan untuk melawan diriku,” ucapnya
tegas. Voina mengangguk mengerti lalu berlari menyerang Gail.
“Heeeaaaa!” Teriakan Voina membahana seketika ia melepaskan
sebuah pukulan ke wajah Gail. Tapi dengan sedikit perpindahan yang dilakukan
Gail, pukulan itu meleset dari wajahnya.
“Stupid woman...” bisik Gail sembari memukul punggung Voina
hingga membuat Voina terhempas ke belakang.
Gail memutar badannya menghadap Voina yang sedang berusaha
berdiri. “Hanya seperti ini kemampuanmu? Sepuluh tahun sudah hanya seperti ini
kekuatanmu!? Wanita bodoh! Tidak punya otak! Dimana otakmu!?”
“SHUT UP, DAMMIT!!” Teriak Voina geram. Rasa sakit di
punggungnya kini menjalar ke leher belakangnya. Ia merasa jika tulang
belakangnya retak parah.
“Cih... Hanya bisa berteriak? Benar-benar wanita bodoh...
Kau tidak pernah pantas untuk menjadi pahlawan!” ejek Gail.
“Shut up! I said SHUT UP!!! ARRRGGGHHH!!!!” Kesadaran Voina
menghilang sesaat rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh. Seakan pukulan tadi
mengandung racun yang dapat merusak tubuhnya dalam hitungan beberapa detik.
Kini, ia tidak bisa bergerak.
Uno terlihat berlari tergopoh-gopoh dan menatap nanar Voina
yang sudah tak berdaya di lapangan itu. Lelaki itu hanya bisa menghela napas
karena ini sudah terbiasa dilihatnya. Melihat Voina jatuh pingsan karena
dipukul Gail.
“Apa... Itu tidak terlalu berlebihan, Gail?” lirih Uno
mendekati Voina.
“Tidak, jika dia memang ingin menjadi kuat,” jawab Gail
datar. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju gudang kembali. Saat Uno akan
membawa Voina ke gudang, Gail berkata sesuatu.
“Biarkan dirinya disana, kau obati disana saja, jangan bawa
masuk ke gudang ini.”
“Ta-tapi─!”
“Turuti saja perintahku, bodoh!” bentak Gail. Uno tidak bisa
melawan gurunya itu. karena ia tahu apa yang diinginkan gurunya itu. ‘Lakukan
perintahku, atau kau akan kupenggal.’
BRAGK!!
Pintu gudang itu dibanting Gail. Sementara itu Uno sedang
mengobati luka memar di punggung Voina yang masih belum sadar. Sudah menjadi
kebiasaan Uno untuk mengobati Voina, karena ia pernah mengobati luka parah yang
diberikan Gail untuk wanita itu.
“Sial! Semakin hari lukamu semakin berat! Tulang belakangmu
sudah retak, dan ini harus di operasi,” gumam Uno. Ia mencoba mencari cara
untuk menyembuhkan luka itu.
“...sudah..lah, Uno...” Uno mendengar suara berat Voina.
Voina sadar, pikirnya.
“Jangan banyak berbicara dulu!”
“Sudah...lah, ini... Bukan yang─ugh! Hhh... Pertama
Ka...linya, hah...?” ucap Voina susah payah. Lagi-lagi Uno menatap nanar sang
wanita yang kini sedang berusaha untuk berbaring terlentang. Lelaki itu bisa
melihat pandangan Voina yang menatap lurus ke arah cakrawala langit biru
layaknya bentangan laut itu.
“Bagaimana pun juga...” Uno ikut berbaring di samping Voina.
“Kau tetaplah manusia, terlebih kau adalah seorang... Wanita.”
Voina tersenyum tipis menyipitkan kedua matanya yang
tersinari matahari lalu berkata lirih, “penderitaanku sampai saat... ini. Tidak
sebanding dengan... penderitaan ‘dia’.”
“Tapi apa kau yakin dengan semua ini, Voina?” tanya lirih
Uno.
Tidak ada balasan dari Voina. Hal itu cukup membuat Uno
khawatir lalu segera bangun dan segera memeriksa denyut nadi Voina.
‘Syukurlah, masih normal.’ Uno menghela napas lega lalu
menarik kembali tangannya. Digenggamnya erat tangan Voina yang sedikit
mendingin dan mengeluarkan darah akibat gesekan dengan tanah yang kasar itu.
“Maaf, Voina. Aku tidak bisa membantumu lebih. Meskipun ini
memang terlalu kasar bagi wanita sepertimu, aku yakin Gail mempunyai maksud
tersendiri memperlakukan dirimu seperti ini. Waktumu hanya tinggal dua bulan
lagi, Viona...” bisik Uno sebelum meninggalkan Voina yang masih terbaring lemah
di tengah lapangan.
Di dalam gudang, Gail menatap kepergian Uno yang sedang
menuju ke dalam rumahnya melalui jendela. Sebelum Uno memasuki rumahnya, Gail
beranjak dari tempat berdirinya memasuki kamar.
.
.
.
.
To Be Continued.