”LARIII!!!!” teriak Joseph menarik tangan Lilian dan berlari bersama yang lainnya. Aksi kejar-mengejar pun terjadi dilorong-lorong sepi tersebut. Derap langkah kaki mereka menuruni tangga yang cukup licin apabila tidak berhati-hati. Tepat didepan anak tangga terakhir ada pintu yang terbuka dan mengarah ke ruang tamu, tapi pintu itu terus bergerak dan akan tertutup. Dengan cepat, Mereka pun masuk kedalam sana.
BRAK!!!
”Hosh... Hosh.... tu-tunggu Shena!” teriak Kyriana kencang saat melihat Shena terjatuh. Tiba-tiba saja Fredd mendapati perasaannya yang tak enak.
”Shena!!! Cepat!!!” teriak Jone dari ambang pintu.
”Maaf teman-teman, aku tidak bisa... pergilah...” lirih Shena menunduk dalam.
”SHEEENNAAAA!!!”
Blam!
Pintu tertutup sempurna dan terkunci rapat tanpa adanya kunci yang bisa membuka pintu itu. Fredd menggedor-gedor keras sambil berusaha mendobrak pintu besi tua tersebut. Joseph dan Luvi berusaha menghentikan Fredd, sedangkan yang lainnya terdiam suram.
”Shenaaa!!!”
.
Title: Lume A întunericului
Warn: Typo (s) , alur aneh dan gaje
Disclaim: OWNED Shaneeta
Capther : 3
Don’t like Don’t read
En(d)joy please^^
.
.
"..."
"Apa yang harus kita lakukan lagi?" tanya Jone. Tak ada satupun yang menjawabnya, keheningan masih menyelimuti diri mereka masing-masing. Tiba-tiba saja Fredd berdiri lalu mengobrak-abrik ruangan kedap suara tersebut. Mereka semua menatap bingung kepada Fredd.
“Apa yang akan kau lakukan, Fredd?” tanya Joseph.
“...aku harus mencari jalan keluar untuk menemukan Shena!” jawabnya tanpa mengalihkan gerakkannya dari mendorong sebuah tong-tong kayu yang cukup berat dan besar itu. Kyriana dan Lilian saling bertatap bingung. Luvi yang sedari tadi menunduk, kini berdiri dan membantu Fredd mendorong tong tersebut.
“Luvi?”
“Bagaimanapun juga Shena adalah teman kita, saudara kita, dan keluarga kita. Kita tidak akan keluar tanpa membawa Shena pulang,” jawab Luvi tenang. Joseph mengangguk mengerti dan ikut mendorong tong kayu tersebut. Fredd menunduk tersenyum tipis lalu mendorong kembali tong tersebut.
“...terima kasih.”
“Aku akan mencari sesuatu barang yang bisa kita gunakan untuk melawan monster itu, sepertinya tempat ini adalah sebuah gudang,” ujar Lilian yang mulai mencari barang. Kyriana bingung harus membantu apa. Sebab tidak mungkin jika ia membantu Lilian mengingat ruangan ini cukup kecil sehingga mudah mendapatkan barang yang seperti itu, dan apabila dia membantu mendorong tong─percuma saja, mendorong pintu kayu besar saja ia tidak bisa bagaimana tong itu?
Walaupun tidak bisa apa-apa, Kyriana bukanlah gadis yang hanya diam menonton yang lainnya. Dia gadis hyper-active yang tidak bisa diam walaupun hanya sebentar─pengecualian disaat waktu yang tak tepat. Langkah kakinya bergerak menyelusuri ruangan berukuran lebih besar dari ruangan awal dimana ia dan kawan-kawannya datang. Hanya saja, ruangan ini dipenuhi tong-tong berukuran besar yang entah apa isinya dan meja-meja dengan banyak laci. Suasana ruangan itu menjadi berdebu karena gerakan tong-tong yang didorong oleh ketiga pria itu. Kyriana menangkap sebuah buku di atas meja dekat penerangan lampu minyak yang sudah redup itu. buku tebal dengan aksen tua dan debu tebal membingkai buku itu. Kyriana cukup tertarik dengan buku itu. Buku yang seakan-akan pernah ia lihat sebelumnya. Tapi ia tak tahu dimana tepatnya berada.
Tangannya terulur dan membersihkan permukaan buku tersebut. Sesekali ia menepuk buku tersebut dan membiarkan debu-debu tebal itu berterbangan. Lalu ia membuka buku itu dan menatap isi buku tersebut. Kosong... Hanya itu yang ia dapatkan.
“Awas, Kyna!!!”
Kyriana menoleh pelan ke arah Jone yang sedang berlari menuju arahnya, lalu ia perlahan mendongak ke atas dimana sebuah lampu kaca gantung tengah bersiap menimpa dirinya.
“Kyaaaaa!!”
BRAKK!!
Kyna berhasil di dorong oleh Jone menghindari lampu aca tersebut. Tapi lampu kaca itu pecah dan mengakibatkan
“Kyna!!” teriak Luvi melihat sang adik hampir saja tertimpa lampu kaca itu. Naas, pecahan kaca itu tersebar dan mengarah ke telapak tangan kanan Kyriana yang melindunginya itu. darah segar merah pun mengalir menetes dan meresap ke buku tersebut.
“Astaga! Kau berdarah!” ucap Lilian yang kini mendekatinya. Kyriana menatap aliran darah yang menetes ke dalam kertas kosong buku tersebut. Darah itu seakan menulis dengan sendirinya di atas kertas kuning yang kosong itu.
‘Oricine intră în lume a întunericului’
Kyriana mengerutkan keningnya tak mengerti dengan bahasa yang dituliskan darahnya tersebut. Tulisannya seperti terpotong.
‘Mungkin darahnya kurang...’ pikir Kyriana. Lalu ia mengeratkan telapak tangannya dan membiarkan darahnya mengalir deras.
“Apa yang kau lakukan, bodoh!” kata Luvi meraih tangan kanan Kyriana lalu membalut luka Kyriana dengan kain bajunya yang baru saja ia sobek.
‘el va fi un companion de întuneric’
“Apa itu?” tanya Fredd sembari membaca tulisan tadi. Joseph dan Lilian ikut membaca tulisan itu.
“‘Siapapun yang masuk ke dalam dunia kegelapan... Dia akan menjadi pendamping kegelapan’.” Joseph mengartikan kalimat tersebut.
“Bahasa apa? Dan... Dimana kau belajar bahasa itu?”
“Roma, dulu aku pernah belajar bahasa Roma saat di Senior High School.”
Lalu tulisan itu menghilang dan berubah menjadi sebuah kalimat.
“Artikan kembali!”
“Dacă nu doriţi tot ce se intampla, Ia focul sacru de glorie şi apoi l-arde”
“Itu berarti, ‘Jika kau tidak ingin semua itu terjadi, ambil api suci kemuliaan dan membakarnya’.” Lanjut Joseph.
“Ada lagi!” seru Kyriana.
“Am să te duc la altar...”
“Saya akan membawa kau ke... Altar?” Joseph menatap mereka semua.
“Apa... Maksudnya?”
BRAK!!!
Sesosok makhluk berjubah hitam mendobrak pintu yang tadi tertutup rapat. Aura kegelapan yang sangat hitam itu menyelimuti ruangan itu dan sekitarnya. Mata bulat yang bercahaya merah terang itu menatap Kyriana.
“Ar trebui să fie al meuí!*” Makhluk itu mengayunkan rantai besi di tangannya dan mencekik Kyriana.
“Agh!” Kyriana mengerang kesakitan saat makhluk itu menarik rantai besi yang meliliti lehernya.
“Kyna!!” Mereka semua berusaha menarik Kyriana dan memutuskan rantai besi tersebut dengan linggis yang ditemukan Lilian sebelumnya.
“ARGHH!!! Vai de voi!” Lagi-lagi makhluk itu berteriak dan membuat menara ini bergetar seperti gempa hebat.
“Kita keluar!” teriak Jone. Mereka semuapun berlari keluar dan sesekali menghindar dari serangan petir yang dikeluarkan sang makhluk kegelapan.
Langkah kaki mereka terus bergerak cepat entah kemana. Mereka terus berlari menaiki tangga yang mereka temukan tak jauh dari pandangan mata. Makhluk itu masih mengejar dan menyambarkan petir dari rantai besi itu. Mencoba menangkap Kyriana yang berada di pangkuan Luvi. Tepat mereka masuk ke dalam sebuah ruangan besar, Jone dan Joseph mengunci ruangan tersebut.
“Kau tidak apa?” tanya Luvi khawatir. Kyriana menggeleng kecil lalu menatap ruangan yang sangat besar dan barisan kaca jendela yang menjulang tinggi. Barisan kaca tersebut terukir banyak gambar yang menggambarkan banyak pejuang Roma yang gugur di medan perang melawan sesosok makhluk berjubah hitam. Makhluk yang sama dengan makhluk yang tadi mengejar mereka.
“Err─Kyna? Bukankah ini kau?” tanya Lilian sembari menunjuk ke arah baris jendela paling ujung. Dimana sesosok wanita yang mirip dengan Kyriana sedang mengarahkan tangannya ke makhluk jubah hitam itu, dan terbakar...
“Mungkin itu yang dinamakan api suci kemuliaan!” seru Jone.
“Tapi dimana kita mendapatkan semua itu?” tanya Fredd.
“Dan lagi... Dimana kita menemukan Shena...?” Fredd menunduk saat menanyakan sang kekasih dengan lirih. Joseph menepuk pundak Fredd lalu mengangguk kecil pertanda mengerti akan sesuatu hal.
“Pasti kita akan menemukan dirinya, Fredd.”
Luvi melihat Kyriana sedang berjalan ke sebuah tempat yang sedikit tinggi darinya. Dan tempat tersebut lebih mirip altar dengan sebuah batu persegi panjang.
“Kyna?” Panggilan Luvi terabaikan oleh Kyriana. Gadis itu masih saja berjalan mendekati batu persegi panjang itu. Sang kakak bisa melihat mata Kyriana membulat seketika.
“SHENAAA!!!”
Teriakannya mampu membuat pengalihan pikiran kepada Kyriana. Fredd yang menyadari nama tersebut langsung berlari mendekati Kyriana dan terkejut melihat siapa yang sedang tertidur di batu panjang itu.
“Shena!! Astaga, Shena!” Fredd langsung memeluk tubuh kecil itu erat. Sangat erat hingga membuat sang empunya terbangun.
“Ngh... Ky... Na? Fredd...?” lirih Shena. Fredd dan Kyriana mengangguk dan tersenyum senang.
“Iya, Shena! Kita berhasil menyelamatkan mu!” ucap Fredd bahagia.
“A-awas...!” Shena berteriak seraya menunjuk ke arah pintu yang kini terbuka oleh makhluk jubah itu.
“Kyaaa!” Kyriana berteriak ketakutan dan merapat ke arah Fredd dan Shena. Luvi segera berlari mendekati Kyriana. Tapi...
ZINGH!!!
Sebuah pisau belati mengarahi Luvi dan tertancap di pundak kiri Luvi. Luvi mengerang kesakitan dan terjatuh.
“Luvi!!” Kyriana menangis melihat Luvi sedang terduduk menahan rasa sakit di pundaknya. Darah merah itu masih mengalir cukup deras melihat cukup dalamnya pisau belati itu menusuk pundak Luvi.
“Lilian! Kita alihkan─AGH!!” Pisau belati itu menusuk punggung Joseph dan membuat lelaki itu terjatuh tak berdaya.
“Jo-Joseph!”
“AWAS!”
ZLEB!
Tiga pisau belati menembus Lilian, Fredd, dan Shena. Membuat mereka bertiga jatuh dengan darah yang mengalir di lantai keramik yang retak. Membuat skema seperti bulatan dan bintang di tengah-tengahnya.
“A-apa yang kau lakukan!!” teriak Kyriana tanpa aliran air matanya berhenti.
Makhluk itu mendekati Kyriana. “Seperti yang kuinginkan... Dan pengubah takdir.”
“Takdir? Takdir apa!?”
Rantai besi itu terayun dan melilit kembali di leher Kyriana.
“Takdir yang sudah kau lihat! Takdir dimana kau akan membunuhku! Tapi... Semua itu tidak lama lagi akan pecah, dan mengubah takdir yang baru! Yaitu takdir untuk membunuh kau! Hahaha!” Tawa membahana makhluk itu terdengar keras. Kyriana masih berusaha membuka rantai besi yang membuatnya susah bernapas. Tapi nihil, kekuatannya sama sekali tidak bisa membuka ikatan itu.
‘Ibu... Luvi... Shena... Fredd... Jone... Lilian... Joseph... Maafkan aku, aku tidak bisa. Maaf.’
Pandangan Kyriana mulai mengabur. Nafasnya mulai terengah-engah menandakan oksigen dalam paru-parunya akan habis. Tenaganya mulai terkuras habis.
‘Aku... Akan, mati...?’
Tiba-tiba saja kenangan dahulu terlintas di pikiran Kyriana.
-FLASHBACK-
Sebuah tubuh terjatuh dari atap sekolah. tubuh itu adalah tubuh Himewari. Sosok wajah yang oriental itu menghadap kedalam dan memperlihatkan Kyriana dan Shena yang menghadap ke jendela tersebut. Rasa terkejut yang bukan main membuat Kyriana terdiam tak percaya dengan yang ia lihat.
’Kuberikan kematianku untuk membalas semuanya.’
-Flashback end-
TRANG!
Entah kenapa leher Kyriana tak terasa sakit lagi dan oksigen itu mulai bisa ia hirup. Kyriana terjatuh lemas ke bawah walaupun ia masih bisa melihat apa yang terjadi. Tanpa ada pengaburan pandangan matanya lagi.
“Apa!? Siapa kamu!?” Sang Makhluk jubah hitam itu terlihat geram pada sesosok yang Kyriana kenal.
“Hime... Wari...? Tapi, bagaimana... Bisa?” gumam Kyriana.
“Maaf, Kyna! Aku terlambat! Aku harus menyogok mereka dulu supaya aku bisa keluar dari tempat mereka. Hehehe...” ucap Himewari riang. Kyriana menatap Himewari yang cukup berbeda dengan pakaian serba hitam dan sebuah katana di tangan kanannya.
“Tempat? Mereka?” tanya Kyriana sembari berusaha untuk bangun dan berjalan perlahan mendekati Himewari.
“Aa... Kau tidak usah mendekatiku, biar aku yang melawan makhluk jelek ini! Lebih baik kau segera mencari api suci kemuliaan,” ujar Himewari bersiap siaga melihat pergerakan makhluk berjubah hitam. Kyriana hanya mengangguk lalu berlari mencari sesuatu yang seperti api, kesucian, dan kemuliaan.
“Tidak akan kubiarkan!!” teriak makhluk itu mengejar Kyriana, tapi langkahnya tertahan oleh Himewari.
“Kali ini, aku yang akan menjaga Kyriana. Dan kali ini juga─whoaaaa! Tunggu sampai ku selesaikan kalimatku, bodoh!” protes Himewari kesal karena makhluk itu menyerangnya pertama. Dan kini, ia bertarung melawan makhluk tersebut.
Kyriana masih mencari api suci kemuliaan di ruangan tersebut. Dan ia pun masih harus menghindar dari serangan tiba-tiba makhluk itu. ia terus mencari, tapi tetap tidak menemukannya.
“Awas, Kyna!” teriak Himewari. Tapi terlambat karena petir itu mengarah ke arah Kyriana dan membuat gadis itu terlempar hingga ke batu persegi panjang.
Kyriana mengerang kesakitan. Tenaganya mulai terkuras kembali dan membuatnya susah untuk berjalan. Ia masih melihat Himewari susah payah melawan makhluk yang sangat kuat itu. Pandangannya mengarah pada lantai dimana Himewari dan makhluk itu tepat berada diatasnya. Darah yang membuat skema lingkaran dengan bintang di dalamnya.
“Pengorbanan...” gumam Kyriana mendapatkan sesuatu. Lalu ia mendongak dan mendapati sinar matahari masuk melewati celah-celah jendela.
“Siang? Ah! Aku mengerti!” Kyriana beranjak dari batu persegi itu dan mencari sebuah batu untuk dilemparkan ke jendela yang bercelah itu.
CTAR!
Lagi-lagi petir menyambar ke arahnya dan membuatnya terlempar jauh. Sebuah ide melintas di benaknya.
“Hey, bodoh! Serang aku kalau kau bisa!” teriak kyriana tanpa di duga.
“A-apa yang kau lakukan!?” tanya Himewari terkejut.
“Baiklah kalau kau mau itu!” jawab sang makhluk mengarahkan rantai itu ke Kyriana. Kyriana tersenyum kecil lalu berteriak ke arah Himewari.
“Hime! Arahkan serangan miliknya ke jendela itu!”
Himewari mendengar semua itu lalu melakukan perintah Kyriana. Gadis itu berlari keluar dari lingkaran darah dan mengarahkan katananya. Waktu yang tepat sehingga serangan itu mengenai katana Himewari dan terpantul ke jendela yang berada di atas Kyriana.
PRANG!
Kaca jendela itu pecah dan membiarkan cahaya matahari menerobos masuk ke dalam ruangan. Cahaya itu mengenai darah yang telah membuat skema tadi. Dan membuat darah itu seperti minyak.
“APA!?”
Darah itu terbakar dan mengurung makhluk jubah hitam itu di dalamnya.
“Bagaimana bisa?” tanya Himewari.
“Api suci kemuliaan. Hanya ada satu api yang suci dan mulia, yaitu matahari,” jawab Kyriana menatap makhluk itu yang mulai terbakar. Tangannya terulur ke depan.
“Hanya Kemuliaan-Nya yang mampu menolong kami semua.”
“GRAAAOOOWWWW!!!!” Erangan makhluk itu mengakhiri hidupnya. Tidak ada lagi sosok yang menyeramkan yang akan membawa mereka semua ke dalam Lume An întunericului. Tidak lagi...
DUAAAR!!!
Sebuah ledakan terdengar keras dari sisi kiri mereka. Dan suara ledakan itu kembali berbunyi di sisi yang lainnya. Membuat menara ini bergetar dan akan hancur. Perlahan demi perlahan menara ini terkikis dan jatuh ke dalam jurang yang sangat dalam.
“Kyaaa!” lantai Kyriana terkikis dan membuat dirinya akan jatuh ke dalam jurang.
“Kyna!!” teriak Himewari menangkap tangan Kyriana dan berpegangan pada katana yang ia tancapkan di lantai.
“Bertahanlah!” Himewari menarik Kyriana dengan susah payah. Tapi retakan lantai mulai meyebar ke arah Himewari dan akhirnya terkikis.
“AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!” Kedua tubuh itu terjatuh ke dalam jurang.
.
.
.
”Kyna!”
“...hah?” Kyriana memutar kepalanya 90º kearah kanan. Ditatapnya gadis berambut hitam legam pendek sebahu yang ia ikat cepol keatas dengan bingung.
”Kau sudah mengerjakan PR Matematika, hm?” tanya gadis itu tepat berjalan disamping Kyriana. Kyriana mengerutkan keningnya bingung. Ditatapnya keadaan sekitar itu. Itu lorong sekolahnya.
“Hello? Kyna!” teriak gadis itu dan membuat Kyriana menatapnya.
“Kau tidak apa? Apa kau sakit?”
“A-ah... Tidak, Hime. Aku hanya... Bingung saja,” jawab Kyriana ragu. Tiba-tiba saja gadis berambut hitam itu memeluk tubuh Kyriana.
“Akhirnya kau memanggil namaku, Kyna! Sejak dulu, aku selalu merasa bersalah dan membuatmu murung,” ucap Himewari tertunduk.
“...maaf, Hime...” ucap Kyriana tersenyum dan mengelus kepala Himewari yang lebih pendek darinya.
“Kyna? Hime? Sedang apa kalian disini?” tanya Joseph dan Lilian. Kyriana menoleh ke arah mereka dan tersenyum bahagia mendapati kedua gurunya yang masih hidup.
“Tidak ada apa-apa, Mr. Joseph, Mrs. Lilian! Hanya saja... Aku ingin bertemu dengan kakakku, Jone, Shena, Fredd, dan kalia berdua!” jawab Kyriana girang lalu berlari masuk ke dalam kelas. Tapi langkahnya berhenti dan menatap Himewari yang sedang menatapnya dengan tatapan bingung.
“Cepat, Hime! Nanti kau akan dihukum Mr. Joseph!”
“I-iya, Kyna!”
“Ah, iya! Shena! Apa kabarmu? Kuharap baik-baik saja kan? Hahaha.”
“Kyna? Kau ini kenapa?”
“Entahlah... Tapi yang pasti hari ini aku bahagia sekali! Hahaha.”
Lilian dan Joseph menatap bingung satu sama lain. Tapi toh akhirnya mereka berdua bisa akur kembali, jadi mereka bisa menghela nafas lega. Mereka berduapun berjalan menuju kelas mereka masing-masing. Dan mengajar seperti biasanya. Seakan dunia itu hanya Kyriana yang tahu, dan hanya sebuah mimpi yang mengubah segalanya.
.
.
.
The End.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar