Jumat, 15 Juni 2012

Shade (1)


13 Desember

Suasana sore kala itu semakin dingin. Titik-titik air yang jatuh ke permukaan bumi membuat siapapun berlari menghindar dari kebasahan. Tapi tidak dengan kedua bocah itu. Mereka berdua berlari saling mengejar satu sama lain dan tertawa riang walaupun air hujan membasahi baju mereka.

“Ayo, Vonia! Tangkap aku kalau kau bisa!” ucap bocah perempuan bertudung hitam itu berlari menghindari kejaran dirinya.

“Tunggu, Terrisia!” teriaknya lantang mencoba menghentikan langkah bocah perempuan yang berada di depannya. Tapi langkah kaki bocah perempuan itu lebih cepat darinya dan membuatnya tertinggal di tikungan.

“Terri─” Suara bocah itu tercekat dan langkahnya pun terhenti melihat apa yang terjadi di depannya. Leher bocah perempuan itu terantai oleh sang lelaki yang ia tak kenal. Seluruh tubuhnya terbujur kaku tak bisa bergerak, matanya masih terbelalak kaget tak mengerti. Mata hitam bocah perempuan itu melirik kearahnya. Ia cukup terkejut lalu berteriak kencang. 

“Cepat pergi dari sini!!!”

Bocah itu masih tidak bergeming dari tempatnya. Ia tidak mau melihat temannya dirantai seperti itu dan menatap Vonia dengan air mata yang mengalir dari mata hitam itu.

“Vonia!! Cepat pergi dari sini!!!” serunya sekali lagi. Aliran air mata itu semakin menderas sesaat lelaki berjubah hitam itu mendekati Vonia.

“Jangan! Jangan dekati dia! Cukup diriku yang menjadi tumbal, Tuan Albert!”

Lelaki berjubah hitam itu menghentikan langkahnya tepat di depan Vonia. Vonia bisa melihat matanya yang hitam tajam dan terdapat goresan hitam vertikal di matanya. Pundak Vonia dipegangnya keras hingga gadis itu mengerang kesakitan.

“Kau... harus datang tanggal yang sama di sepuluh tahun yang akan datang dan membawa Gail untuk menukarkan tumbalmu ini!” teriak lelaki itu sembari mengangkat sebilah pisau belati kecil dan menyayat mata kanan Vonia.

“ARRRGGHHH!!!!!!!!!” Teriakan Vonia membahana di jalanan itu. Darah segar berwarna merah itu mengalir deras dari mata kanannya. Vonia kesakitan, dirinya tak kuat menahan rasa sakit itu sehingga ia terjatuh bertumpu lututnya.

“TIDAAAAAKKK!!!!” Terresia berlari mendekati Vonia, tapi langkahnya tertahan karena rantai di lehernya semakin mencekik dan membuatnya tak bisa bernafas. Lelaki berjubah itu tersenyum sinis dan meninggalkan Vonia yang telah terbaring tak berdaya di jalan. Sedangkan Terresia diseretnya kembali menuju sebuah mobil hitam.

“Ter...ri...sia...”

.

.

.

10 tahun kemudian...

15 Oktober 

“...”

“...!”

BYUUR!!!

“Bangun, bodoh! Mau sampai kapan kau akan tidur seperti ini!” teriak seorang lelaki bertindik dan putung rokok yang terjepit di bibirnya. Di tangan kanannya terdapat sebuah ember yang masih meneteskan air dari sisi dalamnya. Orang itu segera membuka matanya dan mengusap wajahnya yang basah.

“Apa yang kau lakukan, Gail!?” protes orang itu menatapnya tak suka.

Lelaki bertindik─yang bernama Gail─itu hanya mendecih lalu membuang putung rokok itu ke bawah, dan menginjaknya hingga hancur. “Jika kau ingin lebih kuat, bangun yang pagi dan kerjakan semua pekerjaanmu, Vonia!”

“Tapi tidak seperti ini caranya!”

“TENTU SAJA!” bentak Gail keras di depan wajah Vonia. Tanpa memundurkan wajahnya, tangan lelaki itu mengambil sebuah pisau dan mengarahkannya ke leher Vonia. Vonia melirik pisau itu lalu menatap dalam mata lelaki yang lebih tua darinya itu.

“Bagaimana jika ada penyusup yang masuk dan menggoreskan pisau ini ke lehermu, heh? Jawab!” bentaknya sekali lagi. Vonia hanya bisa menutup matanya dan menunduk.

“Cih, bahkan hanya seperti ini saja kau tidak bisa menjawab!” ucap Gail memundurkan posisinya.  Dilemparkannya handuk berwarna putih ke wajah Vonia. “Lebih baik kau cepat mandi, kita akan berlatih kembali dalam sepuluh menit lagi.” Gail berjalan keluar meninggalkan Vonia dan membanting pintu keras.  Dengan handuk yang masih menutupi kepalanya, Vonia hanya menunduk menatap kosong ke bawah. Pikirannya kembali mengarah pada mimpi yang baru saja ia dapatkan. Mimpi yang selalu sama dengan hari-hari kemarin, semenjak kejadian itu berlalu.

“...Voila?” Seseorang membuka pintu kamar Voina dan menyembulkan kepalanya.

“Voina.” Ralat Voina.

“Hehehe... Iya, Voina. Maaf-maaf.”

“Mau apa kau kesini, Uno?” sinis Voina.

Lelaki itu menggeleng kecil lalu melipat kedua tangan di depan dadanya. “Kau ini, selalu saja dingin kepadaku!” ucapnya. Lalu Uno─lelaki itu mendekati Voina dan duduk di pinggir ranjang.

“Bangun telat lagi? Mimpi lagi?” tanya Uno. Voina hanya berdiam diri menjawab pertanyaan Uno. Uno hanya bisa menghela napas lalu menepuk pundak sahabatnya itu.

“Sudahlah, waktunya untuk berlatih kembali. Bukankah sebentar lagi hari itu akan datang?” ujar Uno. Voina menatap lelaki itu lalu tersenyum kecil.

“...ya.”

“Okay! Kalau begitu, senjata mana yang mau kau pilih, Voila~?” tanya Uno dengan sedikit bercanda.

ZETH!

“Sekali lagi kau panggil diriku seperti itu, maka pisau itu akan menancap di tempat yang seharusnya,” geram Voina menunjuk ke ‘bawah’. Uno hanya bisa bergetar ketakutan dan keluar sembari berlari terbirit-birit memegangi ‘bawah’nya.

.

.

.

Voina berdiri di sebuah lapangan bola yang rata dengan tanah kuning. Ya, dia akan berlatih kembali hingga waktunya tiba. Waktu dimana ia harus datang membawa Gail menuju Albert. Voina terlihat sedang merenung entah memikirkan apa.

“Jangan melamun saja, bodoh! Jika kau ingin membawa ku kepada Albert sialan itu, lawan aku!” teriak Gail yang kini tengah berjalan keluar dari pintu gudang dengan membawa dua buah katana. Voina hanya bisa mendecih lalu bersiap untuk melakukan penyerangan atau pertahanan.

“Ku beri kau kesempatan untuk melawan diriku,” ucapnya tegas. Voina mengangguk mengerti lalu berlari menyerang Gail.

“Heeeaaaa!” Teriakan Voina membahana seketika ia melepaskan sebuah pukulan ke wajah Gail. Tapi dengan sedikit perpindahan yang dilakukan Gail, pukulan itu meleset dari wajahnya.

Stupid woman...” bisik Gail sembari memukul punggung Voina hingga membuat Voina terhempas ke belakang.

Gail memutar badannya menghadap Voina yang sedang berusaha berdiri. “Hanya seperti ini kemampuanmu? Sepuluh tahun sudah hanya seperti ini kekuatanmu!? Wanita bodoh! Tidak punya otak! Dimana otakmu!?”

SHUT UP, DAMMIT!!” Teriak Voina geram. Rasa sakit di punggungnya kini menjalar ke leher belakangnya. Ia merasa jika tulang belakangnya retak parah.

“Cih... Hanya bisa berteriak? Benar-benar wanita bodoh... Kau tidak pernah pantas untuk menjadi pahlawan!” ejek Gail.

Shut up! I said SHUT UP!!! ARRRGGGHHH!!!!” Kesadaran Voina menghilang sesaat rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuh. Seakan pukulan tadi mengandung racun yang dapat merusak tubuhnya dalam hitungan beberapa detik. Kini, ia tidak bisa bergerak.

Uno terlihat berlari tergopoh-gopoh dan menatap nanar Voina yang sudah tak berdaya di lapangan itu. Lelaki itu hanya bisa menghela napas karena ini sudah terbiasa dilihatnya. Melihat Voina jatuh pingsan karena dipukul Gail.

“Apa... Itu tidak terlalu berlebihan, Gail?” lirih Uno mendekati  Voina.

“Tidak, jika dia memang ingin menjadi kuat,” jawab Gail datar. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju gudang kembali. Saat Uno akan membawa Voina ke gudang, Gail berkata sesuatu.

“Biarkan dirinya disana, kau obati disana saja, jangan bawa masuk ke gudang ini.”

“Ta-tapi─!”

“Turuti saja perintahku, bodoh!” bentak Gail. Uno tidak bisa melawan gurunya itu. karena ia tahu apa yang diinginkan gurunya itu. ‘Lakukan perintahku, atau kau akan kupenggal.’

BRAGK!!

Pintu gudang itu dibanting Gail. Sementara itu Uno sedang mengobati luka memar di punggung Voina yang masih belum sadar. Sudah menjadi kebiasaan Uno untuk mengobati Voina, karena ia pernah mengobati luka parah yang diberikan Gail untuk wanita itu.

“Sial! Semakin hari lukamu semakin berat! Tulang belakangmu sudah retak, dan ini harus di operasi,” gumam Uno. Ia mencoba mencari cara untuk menyembuhkan luka itu.

“...sudah..lah, Uno...” Uno mendengar suara berat Voina. Voina sadar, pikirnya.

“Jangan banyak berbicara dulu!”

“Sudah...lah, ini... Bukan yang─ugh! Hhh... Pertama Ka...linya, hah...?” ucap Voina susah payah. Lagi-lagi Uno menatap nanar sang wanita yang kini sedang berusaha untuk berbaring terlentang. Lelaki itu bisa melihat pandangan Voina yang menatap lurus ke arah cakrawala langit biru layaknya bentangan laut itu.

“Bagaimana pun juga...” Uno ikut berbaring di samping Voina. “Kau tetaplah manusia, terlebih kau adalah seorang... Wanita.”

Voina tersenyum tipis menyipitkan kedua matanya yang tersinari matahari lalu berkata lirih, “penderitaanku sampai saat... ini. Tidak sebanding dengan... penderitaan ‘dia’.”

“Tapi apa kau yakin dengan semua ini, Voina?” tanya lirih Uno.

Tidak ada balasan dari Voina. Hal itu cukup membuat Uno khawatir lalu segera bangun dan segera memeriksa denyut nadi Voina.

‘Syukurlah, masih normal.’ Uno menghela napas lega lalu menarik kembali tangannya. Digenggamnya erat tangan Voina yang sedikit mendingin dan mengeluarkan darah akibat gesekan dengan tanah yang kasar itu.

“Maaf, Voina. Aku tidak bisa membantumu lebih. Meskipun ini memang terlalu kasar bagi wanita sepertimu, aku yakin Gail mempunyai maksud tersendiri memperlakukan dirimu seperti ini. Waktumu hanya tinggal dua bulan lagi, Viona...” bisik Uno sebelum meninggalkan Voina yang masih terbaring lemah di tengah lapangan.
Di dalam gudang, Gail menatap kepergian Uno yang sedang menuju ke dalam rumahnya melalui jendela. Sebelum Uno memasuki rumahnya, Gail beranjak dari tempat berdirinya memasuki kamar.

.

.

.

.

To Be Continued.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar