TEET!!!!
Bel masuk pun terdengar nyaring seantero lingkungan salah satu sekolah negeri di Bogor. Siswa-siswi sekolah yang sedang asyik-asyiknya mencontek PR itu pun mulai mengerjakan PR tersebut dengan cepat, takut guru mata pelajaran yang bersangkutan itu masuk ke kelas.
"Selamat pagi anak-anak!" tiba-tiba saja seorang guru wanita dengan kacamata tebalnya berteriak di ambang pintu. Mata tajam itu mulai menelusuri setiap anak yang ada di dalam kelas.
"Sial, gurunya udah dateng lagi!" gumam seorang anak cowok yang ada di pojokan. Dengan cepat semua murid itu pun kembali di kursi kayu mereka masing-masing.
Guru itu melangkah pelan tapi pasti ke meja yang sudah disiapkan pihak sekolah. kalau saja gak ada mejanya, pasti tuh guru gak masuk ke kelas, batin semua anak.
"Ehem, pelajaran hari ini cukup dengan tugas yang akan ibu berikan ... jadi, ibu harap kalian MEMPERHATIKAN apa yang ibu sampaikan," ujar guru itu dengan sangat tegas. Lebih tegas dari pak camat yang sedang memarahi warganya yang lelet dalam kerja bakti.
"BAIK BU!!!"
Sang guru pun menjelaskan sedetail mungkin apa yang harus dikerjakan oleh sang murid didiknya. Salah satu murid itu adalah Jen, atau nama yang lebih lengkapnya Jennico Tumbuan.
"Anjrit! masa disuruh persentasi satu bab fisika sih!?" keluh Jen sambil meremas kecil pulpen hitamnya. Temannya, Yanti Putriningrat Adya Sukuwardoyo, hanya menatap horror ke depan papan tulis. Jen merasa ada yang aneh dengan temannya yang keturunan ningrat ini.
"Kenapa lo?" tanya Jen penasaran. Yanti hanya menjawabnya dengan arahan tunjukan ke depan papan tulis. Jen pun mengikuti arah tunjukan Yanti itu, dan menangkap satu kalimat yang membuatnya semakin terkejut.
'SATU KELOMPOK TERDIRI DARI 2 ORANG, DAN DIPILIH OLEH SAYA'
Itulah ... pesan dari neraka untuk Jen.
=.=
"Haaa!!! menyeramkan sekaliii!!! kenapa juga gue harus sekelompok sama si 'Fisika' itu!!"
Yanti menyeruput es teh poci miliknya sambil memakan sedikit makanan ringan, "yah ... udah takdir lo, Jen."
"Ngik..."
"Tapi, Jen ... bukannya bagus ya lo sekelompok ama si 'Fisika'? jadi ntar lo gak usah mikir banyak tuh ama rumus fisika," Yanti berujar. Jen berpikir sejenak. Bener juga ya kata Yanti? si 'Fisika' kan orangnya pendiem, jadi bisa gue akalin aja tuh anak? yeah! batin Jen bersorak sorai dalam hatinya.
Yanti melihat teman sebangkunya sedang senyam-senyum sendiri seperti orang gila. Kayaknya si Jen punya akal busuk nih ama si 'Fisika' ... batin Yanti.
"Eh, gue ke si Tony dulu ye?" tanpa mendengar jawaban Jen, Yanti pun langsung berjalan keluar kelas sampai langkahnya pun tak terdengar. Jen masih di alam khayalannya, sampai akhirnya ada yang menjatuhkannya ke dunia asli.
"Jen, kamu bisa kan bikin animasi GLBB?" tanya orang yang menjatuhkan Jen dari dunia khayalannya.
"Eh? apa? kenapa?"
"Hhh ... kamu bisa kan bikin animasi GLBB?" ulangnya.
"Oh, lo 'Fisika' ... bisa, emang mau di bikinnya kapan?"
"Kalo bisa secepetnya, waktu kita gak banyak," jawab 'Fisika' datar. Jen menjawabnya dengan anggukan dua kali. Karena merasa dimengerti, 'Fisika' pun berjalan keluar kelas dengan diam. Sesaat ia membalikan badannya menghadap kearah Jen.
"Jangan panggil aku 'Fisika'," ucapnya. lalu ia membalikan badannya.
"Kamu gak tau rasanya diejek ..."
Jen tertegun dengan kalimat terakhir 'Fisika'. Dia bisa merasakan dari suara si 'Fisika' kalau dia memang tidak menyukai nama itu. Memang namanya 'Fisika', lebih tepatnya Fisikandha Reviana.
Sepertinya waktu bel istirahat hari ini lebih cepat dari biasanya, atau karena Jen nya saja yang merasa kalau istirahatnya saja lebih cepat? Entahlah ....
"Woy, Jen! diem aja lo ... tumben gak ke kantin? biasanya bareng ama si Ningrat itu ..." tanya seorang lelaki berambut coklat itu.
"Sorry, Fendi ... gue lagi gak mood," jawab Jen asal-asalan.
"Hm ... oh iya, tadi gue liat si 'Fisika' diejek abis-abisan loh sama anak-anak kantin ... sampe-sampe dia dilemparin tomat busuk segala lagi!" cerita Fendi membuat Jen terkejut.
"Serius lo?"
"Seratus rius deh buat lo! gratis!"
"Jah, dia malah becanda ... trus, si kan―err ... maksud gue si 'Fisika'nya gimana?" tanya Jen.
"Dia lari keluar kantin, gak tau deh kemana ..." jawab Fendi santai sambil mengangkat satu kakinya keatas meja.
"Oh ...." Jen memandang lantai keramik yang berwarna putih itu.
"Jangan panggil aku 'Fisika',"
kalimat itu terus mengiang-iang di kepala Jen. Ia merutuki dirinya sendiri yang sering mengejeknya setiap hari.
Hhh ...
=.=
Sudah seminggu Fisikandha tidak masuk sekolah, padahal hari ini adalah hari dimana persentasinya akan dimulai. Jen dapat giliran kedua, otomatis Jen harus bekerja sendirian demi mendapatkan nilai yang cukup.
"Jen, Fisika gak ada kabar?" tanya Yanti.
Jen hanya menggeleng lemah, "Gak ada, Yan ... kayaknya dia emang udah terlanjur sakit hati sama kejadian di kantin dulu."
"Oh? jadi lo udah tau?"
"Iya, Fendi yang ngasih tau."
"Jennico Tumbuan dan Fisikandha Reviana!" panggil guru fisika itu. Jen pun berjalan masuk ke dalam kelas dan menyiapkan CD hasil persentasinya.
"Mana Kandha?" tanya guru itu.
"Gak masuk bu."
"Oh ... ya sudah, kau persentasilah sendiri disini."
Jen pun mempersentasikan hasil kerjanya yang menggunakan sistem kebut semalam itu dengan baik. walaupun sedikit tersendat saat guru itu menanyakan pertanyaan yang di luar pembahasan persentasinya.
"Wes! bagus juga hasil SKS lo, man! Hahaha ..." Ucap Fendi sambil memukul punggung Jen keras.
"Aduh! sialan lo!" Jen dan Fendi pun berlari-larian di lapangan layaknya film india 'Kuch Kuch Hota Hai'. Saat Jen melewati ruang guru, ia melihat sesosok perempuan remaja yang ia kenal.
"Fisika?"
Langkahnya terhenti saat Fisikandha pun menoleh ke arahnya. Terlihat penampilan Fisikandha berbeda. Bukan seperti di sinetron-sinetron yang awalnya cupu jadi cakep banget. Tapi Fisikandha tidak memakai seragam sekolah yang biasanya di pakai, melainkan sebuah baju yang mirip dengan baju sekolah di Jepang.
"Jen?" sahut Fisikandha sambil mendekati Jen.
Jen menatapnya bingung, "kok lo gak pake ..."
"Oh, aku pindah ke Jepang hari ini, jadi aku udah mau keluar." Sela Fisikandha. Lagi-lagi Jen terkejut.
"Apa karena kejadian kemarin lo pindah?" tanya Jen was-was.
Fisikandha menggeleng, "Nggak kok ... ini emang pilihan aku yang ingin pindah ke Jepang."
Jen hanya ber-oh ria, sampai akhirnya teman-teman Jen memanggilnya untuk kembali ke kelas.
"Umh ... gue ke kelas ya," ucap Jen ragu. Fisikandha tersenyum dan mengangguk kecil. Jen pun melangkah menjauhi perempuan itu perlahan. Tiba-tiba saja Jen berhenti lalu membalikan badannya menghadap Fisikandha.
"Maafin gue, Fisika ..., gue banyak salah sama lo." Akhirnya kalimat itu terucap juga dari mulut Jen. Fisikandha terkejut dengan sikap Jen yang berbeda, tapi ia kembali mengukir senyum dan menjawab, "ya ... aku terima maaf kamu, Jen."
"EENJEEENN!!!! BURUAN MASUUUKK!!!!"
"Hahaha, sepertinya ada korban baru nih?"
"Yah.. begitulah, merepotkan memang menjadi orang yang terejek. Hahaha ...."
THE END~ (?)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar